back to top

Jayamas Medical Bidik Pendapatan Tumbuh 15% pada 2026, Layanan Kesehatan Tetap Prospektif

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Jayamas Medica Industri Tbk (OMED) menargetkan pendapatan sebesar Rp2,3 triliun pada 2026, tumbuh 15% dibanding periode sama tahun 2025.  Target tersebut didukung antara lain oleh permintaan yang stabil dari segmen  layanan kesehatan swasta maupun publik  tahun ini.

Louis Hartanto, Direktur Marketing dan Sales OMED dalam keterangan, Kamis 5 Februari 2026 mengatakan, prospek operasional Perseroan pada tahun 2026 masih berada pada jalur pertumbuhan yang sehat. Perseroan menargetkan margin laba kotor yang tetap terjaga pada kisaran awal yakni 30%.

Manajemen Perseroan juga menargetkan penjualan ekspor sebesar US$1,0 juta–US$1,5 juta pada tahun ini. Tentu perkiraan ini didasarkan pada perluasan jangkauan pasar Perseroan serta upaya diversifikasi sumber pendapatan OMED.

Menurut Louis, untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang dan kesiapan operasional, OMED mengalokasikan belanja modal (capital expenditure) sekitar Rp62 miliar pada 2026. Belanja modal ini akan difokuskan pada penambahan mesin untuk memperluas kapasitas produksi di fasilitas Mojoagung dan Krian, serta pengembangan National Distribution Center (NDC) di Pulo Gadung, Jakarta.

Pengembangan ini, papar Louis, diharapkan dapat meningkatkan efisiensi logistik dan kualitas layanan, khususnya di wilayah Jabodetabek dan Jawa Barat. Louis menegaskan bahwa meskipun pergerakan pasar saham dalam jangka pendek dapat dipengaruhi oleh faktor makroekonomi dan dinamika indeks global,

Prospek usaha OMED tahun ini juga ditopang oleh, sektor kesehatan Indonesia  yang masih positif. Pemerintah Indonesia telah meningkatkan anggaran kesehatan nasional sebesar 16% secara tahunan menjadi Rp244 triliun.

Kebijakan pemerintah tetap difokuskan pada peningkatan aksesibilitas, keterjangkauan, serta keberlanjutan system kesehatan jangka panjang, termasuk penguatan kapabilitas industri kesehatan dan farmasi dalam negeri.

Meski program Jaminan Kesehatan Nasional (BPJS Kesehatan) masih menghadapi tekanan pendanaan  berlanjut akibat rasio klaim yang melampaui penerimaan iuran. Sehingga dalam kondisi ini, segmen layanan kesehatan swasta diperkirakan tetap resilien, didorong oleh permintaan layanan kesehatan dengan kompleksitas lebih tinggi, layanan non-BPJS, produk consumable medis, serta pengembangan infrastruktur  kesehatan. (konrad)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Meski Penjualan Naik, Fajar Surya Wisesa (FASW) Rugi Rp1,13 Triliun pada 2025, Ini Penyebabnya

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Penjualan bersih emiten produsen kertas, yakni PT...

Izin Usaha Dicabut OJK, LPS Gerak Cepat Siapkan Pembayaran Simpanan Nasabah BPR Bank Cirebon

STOCKWATCH.ID (CIREBON) – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) langsung bergerak...

Dukung Program 3 Juta Rumah, BRI Kuasai 49% Penyaluran Kredit Nasional

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru