STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) semakin kokoh menggarap bisnis emas di tanah air. Emiten bersandi BRIS ini tengah bersiap meluncurkan layanan simpanan emas pada akhir Februari ini. Langkah ini menjadi bagian dari ambisi besar BSI menjadi pionir bullion bank atau bank emas pertama di Indonesia.
Kinerja bisnis emas BSI menunjukkan grafik yang terus menanjak tajam. Saat ini jumlah nasabah ekosistem emas BSI telah menembus angka 1,1 juta orang. Angka tersebut terdiri dari 640 ribu nasabah produk Cicil Emas dan Gadai Emas. Sementara itu, 530 ribu nasabah lainnya merupakan nasabah murni bullion untuk produk titipan serta jual beli.
Direktur Distribution and Sales BSI Anton Sukarna menargetkan pertumbuhan nasabah yang lebih besar tahun ini. Pihaknya optimistis angka kunjungan dan penggunaan layanan emas akan terus bertambah. Pertumbuhan ini menjadi cerminan kepercayaan masyarakat terhadap investasi emas di bank syariah.
“Mudah-mudahan tahun ini meningkat lebih tinggi lagi. Target kita bisa sampai 2 juta nasabah atau lebih,” ujar Anton Sukarna dalam keterangan pers di Jakarta, Jumat (6/2/2026)
Secara bisnis, pertumbuhan sektor non-bullion seperti Cicil Emas dan Gadai Emas naik 78,60% secara tahunan (YoY). Volume bisnisnya mencapai angka 22,90 triliun. Secara rinci, Cicil Emas menyumbang 12,89 triliun dengan lonjakan 101,23%. Sementara Gadai Emas berkontribusi sebesar 10,02 triliun dengan kenaikan 56,05%.
Untuk performa bullion bank, BSI mencatatkan angka penjualan emas mencapai 2,2 ton sepanjang tahun lalu. Anton menyebut pihaknya akan terus memasifkan sosialisasi investasi emas. Tujuannya agar masyarakat semakin paham model investasi ini demi kesejahteraan masa depan.
Terkait perizinan, BSI sudah mengantongi tiga izin dasar dari empat izin yang diatur dalam POJK Nomor 17 tentang Bullion Bank. Tiga izin tersebut meliputi izin jual beli, izin penitipan, dan izin simpanan. Saat ini persiapan akhir untuk layanan simpanan emas sedang dilakukan.
“Ketiga izin dasar sudah kita jalankan. Untuk simpanan emas akan mulai pada Februari ini,” jelas Anton.
Setelah layanan simpanan resmi berjalan, BSI akan mengkaji perizinan keempat yaitu pembiayaan emas. Proses ini membutuhkan analisis risiko dan kesiapan pasar yang matang. Jika hasil kajian menunjukkan hasil positif, BSI segera mengajukan izin tersebut ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
BSI juga menangkap banyak permintaan transaksi turunan dari nasabah. Perusahaan tengah mengusulkan izin untuk produk baru seperti Gadai i-Mas dan Cicil i-Mas. Keduanya merupakan layanan gadai dan cicil yang terintegrasi langsung dengan tabungan emas nasabah.
Selain segmen ritel, BSI memperluas jangkauan ke sektor wholesale atau grosir. Perusahaan akan membuka rekening direct sales dan tabungan emas khusus untuk kebutuhan nasabah korporasi. Strategi ini diharapkan mampu memperbesar volume perdagangan emas nasional melalui jalur perbankan syariah.
Direktur Finance and Strategy BSI Ade Cahyo Nugroho menegaskan kekuatan BSI terletak pada dual license. Perusahaan memegang izin sebagai bank syariah sekaligus izin bullion bank. Keunikan ini memungkinkan BSI menggarap ekosistem haji dan emas secara bersamaan.
Strategi tersebut terbukti efektif mendongkrak Dana Pihak Ketiga (DPK). Tabungan Haji BSI tumbuh lebih dari 10% dengan jumlah rekening mencapai lebih dari 6 juta. Di sisi lain, nasabah prioritas juga mengalami kenaikan sebesar 17,30% (YoY).
“Tahun ini kami melakukan sosialisasi Tabungan Haji kepada pegawai negeri di daerah,” kata Ade Cahyo Nugroho mengenai upaya peningkatan kinerja perseroan.
Transformasi BSI menjadi bank emas tidak hanya soal angka pertumbuhan. Langkah ini diharapkan menjadi solusi aman bagi masyarakat dalam menyimpan dan mengelola aset emas. Dengan pengawasan ketat dari regulator, BSI optimistis produk baru yang akan rilis di 2026 nanti akan diterima dengan baik oleh pasar.
