STOCKWATCH.ID, Jakarta – Penerbitan surat utang korporasi di Indonesia mencetak sejarah baru sepanjang tahun 2025. Nilai penerbitannya mencapai Rp284,3 triliun. Angka ini menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah pasar modal tanah air.
Kepala Divisi Riset Ekonomi PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), Suhindarto, menyampaikan capaian ini melampaui rekor sebelumnya pada 2017. Kala itu, nilai penerbitan berada di angka Rp185 triliun.
Jika dibandingkan dengan tahun 2024 yang sebesar Rp149,7 triliun, realisasi tahun 2025 tumbuh signifikan sebesar 89,87%. Lonjakan ini dipicu oleh tingginya kebutuhan dana segar perusahaan.
“Penerbitan di tahun lalu menjadi yang paling tinggi sepanjang sejarah pasar surat utang korporasi di Indonesia,” ujar Suhindarto di Jakarta, Rabu (11/2/2026).
Suhindarto mengungkapkan beberapa faktor pendorong utama prestasi tersebut. Perusahaan banyak melakukan refinancing atau pendaanan kembali utang lama. Selain itu, biaya dana (cost of fund) di pasar surat utang jauh lebih murah dibanding pinjaman bank.
Kondisi ini terjadi setelah BI Rate turun sebesar 125 basis poin sepanjang 2025. Penurunan bunga bank cenderung kaku dan lambat. Sebaliknya, imbal hasil (yield) surat utang merosot lebih cepat.
Faktor lain yang mendongkrak angka ini adalah munculnya instrumen khusus. “Lonjakan didorong oleh strategi mengamankan pendanaan jangka panjang serta faktor one-off dari Patriot Bond Danantara,” tuturnya.
Dari sisi tenor, perusahaan kini lebih suka mengincar pendanaan jangka panjang. Surat utang tenor 5 tahun mendominasi dengan porsi 34,36%. Sementara itu, tenor 7 tahun yang biasanya tidak populer justru meningkat menjadi 12,6%.
Emiten berperingkat Triple A atau perusahaan paling prima menguasai pasar. Mereka memanfaatkan bunga rendah untuk menggalang dana besar. Porsinya mencapai 58% dari total penerbitan atau setara Rp164,9 triliun.
Dilihat dari jenis institusi, komposisi penerbit cukup berimbang. Grup BUMN menerbitkan surat utang senilai Rp137,5 triliun. Jumlah ini banyak disumbang oleh aktivitas Danantara. Sedangkan sektor swasta mencatatkan nilai Rp146,8 triliun.
Untuk jenis instrumen, obligasi dan sukuk masih menjadi primadona dengan nilai Rp219,1 triliun. Namun, Medium Term Notes (MTN) mengalami kenaikan luar biasa menjadi Rp62,7 triliun. Tahun sebelumnya, MTN hanya tercatat Rp1,5 triliun.
Sektor Perusahaan Induk (Holding) memimpin klasemen penerbit terbanyak dengan nilai Rp69,3 triliun. Posisi kedua ditempati sektor perbankan sebesar Rp41,7 triliun. Sektor Multifinance, Pulp & Paper senilai Rp33,2 triliun, dan Pertambangan melengkapi daftar lima besar.
