back to top

Abaikan Perang Iran, Wall Street Melesat Berjamaah! Indeks Dow Jones Lompat 200 Poin Lebih

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup menguat berjamaah pada akhir perdagangan Rabu sore (4/3/2026) waktu setempat atau Kamis pagi (5/3/2026) WIB. Tiga indeks utama melanjutkan momentum kenaikan dari sesi sebelumnya. Kekhawatiran pelaku pasar terhadap perlambatan ekonomi AS dan efek perang di Timur Tengah mulai mereda.

Mengutip CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York melonjak 238,14 poin atau 0,49% ke level 48.739,41. Indeks S&P 500 (SPX) juga naik 0,78% dan berakhir di posisi 6.869,5. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) yang didominasi saham teknologi, menguat 1,29% menjadi 22.807,484.

Kenaikan pasar mendapat dukungan kuat dari saham-saham teknologi. Emiten di sektor pembuat cip memimpin penguatan tersebut. Saham Micron Technology dan Advanced Micro Devices (AMD) masing-masing melesat sekitar 6%. Saham Broadcom dan Nvidia juga merangkak naik sekitar 2%.

Sejumlah data ekonomi terbaru turut mendorong optimisme investor. Laporan ADP menunjukkan perusahaan swasta menambah lebih banyak lapangan kerja pada bulan Februari. Angka ketersediaan lapangan kerja ini berhasil melampaui perkiraan para analis.

Selain itu, sektor non-manufaktur AS mencatat pertumbuhan impresif bulan lalu. Pertumbuhan ini melampaui ekspektasi di tengah meredanya tekanan inflasi.

Anthony Saglimbene, Kepala Strategi Pasar Ameriprise, memberikan analisisnya. “Kekhawatiran akan melemahnya pasar tenaga kerja setidaknya mungkin berubah menjadi pasar tenaga kerja yang memburuk sedang ditantang saat ini,” kata Saglimbene.

Ia menegaskan kondisi fundamental ekonomi AS sangat solid dan jauh dari kata resesi. “Ekonomi AS berdiri di atas pijakan yang kuat,” tambahnya.

Di sisi lain, harga minyak mentah dunia mulai mendingin dan kehilangan tenaga. Minyak mentah berjangka Brent dan West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan stagnan. Harga kedua acuan minyak ini sempat masuk ke zona negatif untuk pertama kalinya sejak perang Iran dimulai.

Penurunan harga minyak dipicu oleh pernyataan Menteri Keuangan AS Scott Bessent. Ia berbicara kepada CNBC pada hari Rabu terkait kelancaran pasokan energi. Pemerintah AS berencana membuat “serangkaian pengumuman” untuk mendukung aliran minyak melalui Teluk Persia.

Presiden Donald Trump pada hari Selasa juga telah mengambil langkah tegas. AS siap memberikan asuransi risiko untuk semua perdagangan maritim melalui kawasan Teluk. Langkah ini bertujuan mengamankan pergerakan kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz.

Lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz sempat terhenti total. Selat ini merupakan jalur transit paling vital di dunia untuk minyak mentah. Penghentian terjadi usai komandan Garda Revolusi Iran mengancam akan membakar kapal mana pun yang mencoba melewati rute tersebut.

Saglimbene mengingatkan potensi risiko kepada pasar jika eskalasi terus meningkat. “Jika kita sampai pada lingkungan Timur Tengah yang lebih mengganggu, Anda akan melihat efek domino yang lebih besar di seluruh pasar global dan harga aset dan mungkin prospek ekonomi,” ujarnya.

Namun, ia meminta investor tidak terlalu cepat mengambil kesimpulan atau panik. “Masih terlalu dini untuk membuat penilaian tersebut,” tegasnya.

Sementara itu, kebijakan tarif global 15% dari Presiden Trump mulai berlaku minggu ini. Menteri Bessent mengonfirmasi rencana implementasi tersebut. Meski begitu, ia yakin tingkat tarif AS akan kembali ke level semula “dalam lima bulan” pasca putusan pembatalan oleh Mahkamah Agung.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Konflik Timur Tengah Memanas, Bursa Saham Eropa Justru Kompak Menghijau

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup menguat pada...

Perang Iran Picu Aksi Jual, Indeks Kospi Terjun Bebas 12% dan Bursa Asia Rontok

STOCKWATCH.ID (SEOUL) - Bursa saham di kawasan Asia berguguran...

Wall Street Terguncang Konflik Iran, Indeks Dow Jones Sempat Anjlok 1.200 Poin

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru