Stockwatch.id Versi penuh
Market

BEI Buka Opsi Revisi Target IPO 2026, Ini Respons OJK

Oleh Daiz La Ode 04 Aug 2026 19:11 4 menit baca

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memahami langkah Bursa Efek Indonesia (BEI) yang membuka opsi untuk merevisi target penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) pada 2026. OJK menilai penyesuaian target dapat dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika pasar yang berkembang.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon merangkap Anggota Dewan Komisioner OJK, Hasan Fawzi, mengatakan opsi revisi tersebut masih berada dalam proses kajian di BEI.

"Dalam hal ini OJK dapat memahami apabila BEI membuka opsi untuk melakukan kemungkinan revisi target IPO yang tercantum dalam RKAT tahun 2026 yang saat ini tentu sedang mengalami proses review dan kajian di Bursa Efek Indonesia," kata Hasan dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Juli 2026 di Jakarta, Selasa (4/8/2026).

Menurut Hasan, revisi Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) merupakan mekanisme yang dimungkinkan bagi Self-Regulatory Organization (SRO), mengacu pada ketentuan POJK Nomor 31 Tahun 2025.

"Tentunya dalam hal nanti SRO termasuk Bursa Efek Indonesia mengajukan revisi target dalam RKAT-nya ini, maka kami di OJK akan memberikan tanggapan setelah terlebih dahulu melakukan penelaahan dan pembahasan yang mendalam dan tentu akan kita lakukan bersama dengan BEI," ujarnya.

Hasan berharap BEI tetap mengoptimalkan berbagai upaya agar target yang telah ditetapkan dapat dicapai. Namun, menurutnya, OJK dan BEI tidak hanya mengejar jumlah IPO.

"Kami kembali tegaskan bahwa baik OJK maupun BEI dalam konteks reformasi integritas di pasar modal tidak akan hanya fokus pada pencapaian angka kuantitas jumlah ataupun nilai IPO semata, tetapi kami akan lebih menekankan pada aspek kualitas dari calon-calon emiten, melihat kesiapan dari perusahaan dimaksud, serta tentu kita ingin memastikan keberhasilan proses go public emiten baik nanti di pasar perdananya maupun di pasar sekunder," kata Hasan.

Ia menegaskan OJK akan memastikan setiap perusahaan yang masuk ke pasar modal memiliki fundamental keuangan yang baik serta menerapkan tata kelola perusahaan yang memadai.

"Kami akan memastikan bahwa perusahaan yang masuk ke pasar modal setidaknya memiliki catatan fundamental keuangan dan juga praktik tata kelola yang baik," ujarnya.

Meski kondisi pasar dipengaruhi dinamika geopolitik global, Hasan menilai minat perusahaan untuk melantai di bursa masih cukup baik. Hal itu terlihat dari realisasi IPO sepanjang tahun ini maupun jumlah perusahaan yang masih berada dalam pipeline di OJK dan BEI.

"OJK bersama BEI akan secara aktif melakukan berbagai upaya untuk mendorong lebih banyak perusahaan memanfaatkan pasar modal melalui proses IPO sebagai sarana dan alternatif penggalangan dana jangka panjang. Kami secara rutin dalam hal ini menyelenggarakan program sosialisasi, coaching clinic, dan juga forum diskusi dengan calon emiten dan pelaku pasar," kata Hasan.

Selain itu, OJK juga tengah mengkaji penyederhanaan dokumen dalam proses penawaran umum guna mempercepat proses IPO tanpa mengurangi kualitas emiten.

"OJK saat ini juga sedang melakukan kajian mengenai upaya penyederhanaan dokumen-dokumen yang disampaikan dalam rangka penawaran umum. Nah ini yang diharapkan nanti dapat membantu juga percepatan proses penawaran umum tanpa kembali kami tekankan mengurangi kualitas dari perusahaan tercatat," ujarnya.

Hasan optimistis minat perusahaan melakukan IPO akan tetap terjaga apabila kondisi fundamental ekonomi dan geopolitik membaik.

"Dengan berbagai upaya yang dilakukan oleh OJK dan BEI, tentu kita harapkan terjadi perbaikan dan penguatan fundamental ekonomi dan geopolitik juga, maka kita harapkan ke depan minat perusahaan untuk melakukan penghimpunan modal melalui IPO akan tetap terjaga dan meningkat dari waktu ke waktu," kata Hasan.

BEI sebelumnya menargetkan 50 perusahaan melaksanakan IPO sepanjang 2026. Hingga awal Agustus, realisasinya baru mencapai tujuh emiten dengan total dana yang berhasil dihimpun sebesar Rp2,16 triliun.

Emiten pertama yang melantai di BEI tahun ini adalah PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) pada 10 April 2026 dengan dana IPO sebesar Rp302,40 miliar.

Selanjutnya, sepanjang Juli 2026 terdapat enam perusahaan yang mencatatkan saham di BEI, yakni PT Niramas Utama Tbk (JELI), PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), PT Bach Multi Global Tbk (BACH), PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI), PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), dan PT RANS Entertainment Indonesia Tbk (RANS).

Dana IPO yang dihimpun masing-masing emiten terdiri atas JELI sebesar Rp239,40 miliar, JECX Rp609,97 miliar, BACH Rp271,83 miliar, EMMI Rp245,74 miliar, PRDL Rp62,74 miliar, dan RANS Rp429,25 miliar.


Topik terkait
OJK BEI Revisi Target IPO Kualitas Emiten IPO 2026