Stockwatch.id Versi penuh
Financial

EBITDA BUMA International Group Naik 8% di Semester I-2026, Rugi Bersih Menyusut 37%

Oleh John Mbaling 02 Aug 2026 22:51 3 menit baca

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) mencatat perbaikan kinerja operasional dan keuangan sepanjang semester I-2026. Meski pendapatan turun akibat berakhirnya sejumlah kontrak tambang, perseroan berhasil meningkatkan EBITDA, memperbaiki margin usaha, serta memperkuat arus kas bebas melalui efisiensi operasional dan pengendalian biaya.


 


Iwan Fuad Salim, Direktur BUMA International Group, mengatakan, pendapatan BUMA International Group pada enam bulan pertama 2026 tercatat sebesar USD693 juta, turun 5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.


 


Penurunan dipicu berakhirnya kontrak di site Binungan milik Berau Coal dan site IBP milik Resource Alam Indonesia di Indonesia, serta site Burton milik Bowen Coking Coal di Australia, disertai penurunan aktivitas di beberapa lokasi operasi lainnya.


 


Akibat kondisi tersebut, volume pengupasan lapisan tanah penutup (overburden removal) turun 11% secara tahunan menjadi 186 juta bank cubic meter (BCM). Sementara produksi batu bara mencapai 32 juta ton, atau turun 16%.


 


Iwan juga mengemukakan, di luar kontrak yang telah berakhir maupun mengalami penurunan aktivitas, operasi inti Grup justru menunjukkan pertumbuhan. Volume overburden removal meningkat sekitar 9% dan produksi batu bara naik sekitar 4%, didukung peningkatan keandalan armada serta kondisi cuaca yang lebih kering. Rata-rata harga jual (average selling price/ASP) jasa kontraktor pertambangan juga naik 8% dibandingkan semester I-2025.


 


Di tengah penurunan pendapatan, perseroan mampu meningkatkan EBITDA menjadi USD69 juta, naik 8% dibandingkan USD64 juta pada semester I-2025. Kenaikan tersebut mencerminkan pemulihan margin usaha dan efisiensi biaya di seluruh lini bisnis. Tanpa memperhitungkan lonjakan harga bahan bakar, EBITDA diperkirakan mendekati USD78 juta.


 


Rugi bersih juga berhasil ditekan menjadi USD50 juta, membaik 37% dibandingkan rugi USD80 juta pada periode yang sama tahun lalu. Perbaikan didukung keuntungan penjualan aset lahan Atlantic Carbon Group (ACG) sebesar USD12 juta, penurunan depresiasi dan amortisasi sebesar USD19,3 juta, serta kenaikan keuntungan selisih kurs bersih sebesar USD11 juta. Namun, kinerja tersebut masih dipengaruhi dampak negatif investasi di 29Metals sebesar USD14,5 juta.


 


Perseroan juga menurunkan belanja modal menjadi USD37 juta, atau merosot 67% dibandingkan USD111 juta pada semester I-2025. Penurunan tersebut didukung optimalisasi armada dan pengalihan aset dari lokasi tambang yang telah berhenti beroperasi. Arus kas bebas meningkat signifikan menjadi USD39 juta, dari USD5 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.


 


Pada kuartal II-2026, operasional Grup menunjukkan perbaikan yang konsisten. Volume overburden removal naik 10% dibandingkan kuartal sebelumnya menjadi 97 juta BCM, sedangkan produksi batu bara meningkat 20% menjadi 17 juta ton. Ketersediaan armada, produktivitas alat berat, serta efisiensi pemeliharaan juga mengalami peningkatan.


 


Meski biaya per BCM meningkat akibat lonjakan harga bahan bakar, konsumsi bahan bakar per BCM justru turun berkat perbaikan kondisi jalan angkut dan peningkatan perilaku berkendara. Selain itu, biaya tenaga kerja per BCM turun 7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan turun 13% dibandingkan kuartal sebelumnya sebagai hasil program efisiensi yang dijalankan sejak 2025.


 


Iwan mengatakan, peningkatan EBITDA, perbaikan margin, dan penguatan arus kas bebas menunjukkan bahwa berbagai langkah yang telah kami jalankan selama setahun terakhir di seluruh area operasional, optimalisasi tenaga kerja, dan pemeliharaan, telah memberikan hasil, bahkan di tengah penurunan pendapatan dan lonjakan harga bahan bakar yang signifikan.


 


“Kemajuan tersebut semakin menguat sepanjang kuartal kedua, ditandai dengan keandalan armada yang lebih baik, produktivitas yang lebih tinggi, serta peningkatan produksi. Memasuki semester kedua, prioritas kami adalah melanjutkan momentum operasional ini, menjaga disiplin biaya dan modal, serta mengelola eksposur harga bahan bakar seiring upaya kami memperkuat perolehan arus kas,” katanya dalam keterangan resmi, dikutip Minggu (02/8/2026).


 


Di bidang lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), intensitas emisi Grup turun 4% dibandingkan kuartal I-2026. Pendapatan dari batu bara nontermal berkontribusi 20% terhadap total pendapatan semester I-2026. Anak usaha PT BISA Ruang Nuswantara (BIRU) juga memperluas akses pelatihan vokasi bagi pemuda Indonesia untuk bekerja sebagai Specified Skilled Worker di Jepang melalui kerja sama dengan lembaga penempatan tenaga kerja internasional.