STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Gelombang pengunduran diri melanda puncak pimpinan otoritas pasar modal Indonesia pada Jumat (30/1/2026). Para petinggi Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memilih meletakkan jabatan secara mendadak. Langkah ini mengakhiri perjalanan karir panjang mereka di industri keuangan tanah air
Drama bermula pada Jumat pagi sekitar pukul 09.00 WIB. Direktur Utama BEI, Iman Rachman, menemui awak media dalam konferensi pers singkat. Pertemuan itu hanya berlangsung selama empat menit. Iman secara mengejutkan mengumumkan berhenti dari posisinya.
Keputusan ini menjadi buntut dari gejolak pasar yang hebat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hingga 8% dalam dua hari terakhir. Perdagangan bahkan harus dihentikan sementara atau trading halt.
Laporan MSCI menjadi pemicu utama kepanikan investor. Lembaga internasional tersebut menyoroti masalah transparansi saham di Indonesia. Mereka mengancam menurunkan status Indonesia menjadi Frontier Market.
“Saya menyatakan mengundurkan diri sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia sebagai bentuk tanggung jawab terhadap apa yang terjadi dua hari kemarin,” ujar Iman di depan awak media.
Iman Rachman sebenarnya bukan orang baru di dunia finansial. Karirnya membentang luas sejak lulus dari Universitas Padjajaran pada 1995. Ia kemudian meraih gelar MBA Finance dari Leeds University Business School.
Ia merintis jejak sebagai Manager di PT Danareksa Sekuritas pada 1998. Selanjutnya, ia dipercaya menjadi Direktur Investment Banking PT Mandiri Sekuritas. Iman juga piawai mengelola keuangan perusahaan pelat merah seperti PT Pelabuhan Indonesia II dan III.
Sebelum memimpin BEI sejak Juni 2022, ia sempat menjabat Direktur Utama PT Perusahaan Pengelola Aset. Jabatan terakhirnya adalah Direktur Strategi, Portfolio, dan Pengembangan Usaha PT Pertamina (Persero). Kini, kepemimpinan bursa akan diisi oleh Pelaksana Tugas (PLT).
Kejutan tidak berhenti pada pagi hari saja. Sore harinya, tepat pukul 18.25 WIB, giliran OJK yang berguncang. Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, resmi menyatakan mundur.
Mahendra Siregar dikenal sebagai diplomat sekaligus ekonom ulung. Ia menyandang gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Indonesia dan Master of Economics dari Monash University. Mahendra dilantik sebagai Ketua OJK pada Juli 2022.
Rekam jejaknya di pemerintahan sangat mengesankan. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri. Mahendra juga sempat menduduki kursi Duta Besar RI untuk Amerika Serikat. Jabatan strategis lain yang pernah ia pegang meliputi Kepala BKPM, Wakil Menteri Keuangan, hingga Wakil Menteri Perdagangan.
“Pengunduran diri ini merupakan bentuk tanggung jawab moral untuk mendukung terciptanya langkah pemulihan yang diperlukan,” tulis Mahendra Siregar dalam keterangan resminya.
Langkah Mahendra diikuti oleh Inarno Djajadi. Mantan Direktur Utama BEI itu melepaskan jabatannya di OJK bersama Deputi Komisioner Pengawas Emiten, I.B. Aditya Jayaantara.
Inarno Djajadi adalah veteran sejati di pasar modal nasional. Ia memulai karirnya sejak tahun 1989. Pria lulusan Universitas Gadjah Mada ini telah malang melintang di berbagai perusahaan sekuritas.
Ia pernah memimpin PT Aspac Uppindo Sekuritas dan PT Madani Sekuritas. Inarno juga tercatat pernah menjadi Komisaris Utama di PT KPEI dan PT CIMB Niaga Sekuritas. Sebelum di OJK, ia sukses menakhodai bursa sebagai Direktur Utama BEI periode 2018-2022.
Malam semakin larut, namun pengunduran diri belum usai. Pada pukul 21.00 WIB, Mirza Adityaswara turut menyatakan pamit. Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK ini menyusul langkah rekan-rekannya.
Mirza Adityaswara memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun di industri keuangan. Ia meraih gelar Master of Applied Finance dari Macquarie University. Karirnya dimulai sebagai Dealer di Bank Sumitomo Niaga pada 1989.
Nama Mirza sangat disegani di kalangan bankir. Ia pernah menjadi Kepala Ekonom Bank Mandiri Group. Ia juga sempat menjabat sebagai Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Puncak karirnya terjadi saat ia menjabat Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia periode 2013-2019. Sebelum menetap di OJK, Mirza sempat bertugas sebagai Tenaga Ahli Menteri Keuangan.
Kini, pasar modal Indonesia menanti arah baru. Pengunduran diri massal para tokoh senior ini menjadi catatan sejarah kelam industri keuangan. Upaya pemulihan kepercayaan investor kini menjadi pekerjaan rumah yang sangat berat bagi pemerintah.
