Rabu, Januari 21, 2026
27.9 C
Jakarta

Greenland Jadi Rebutan, Parlemen Eropa Bakal Bekukan Kesepakatan Tarif AS-Eropa

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Parlemen Eropa berencana menunda persetujuan kesepakatan tarif Amerika Serikat (AS) yang disepakati Juli lalu. Keputusan ini rencananya diumumkan di Strasbourg, Prancis, Rabu (21/1/2026) waktu setempat.

Langkah tersebut menandai eskalasi ketegangan baru antara AS dan Eropa. Pemicunya adalah ambisi Donald Trump mengakuisisi Greenland serta ancaman tarif baru akhir pekan lalu.

Mengutip BBC, perselisihan ini langsung mengguncang pasar keuangan global. Isu perang dagang kembali mencuat seiring munculnya potensi balasan dari pihak Eropa terhadap kebijakan perdagangan AS.

Bursa saham di kedua sisi Atlantik kompak melemah pada Selasa (20/1/2026). Indeks Dow Jones merosot lebih dari 1,7%, S&P 500 jatuh di atas 2%, dan Nasdaq ditutup anjlok 2,4%.

Di pasar valuta asing, mata uang USD jatuh tajam. Euro sempat naik lebih dari 0,8% terhadap dolar ke level 1,1749 USD. Sementara itu, Pound Inggris menguat 0,1% ke posisi 1,343 USD.

Biaya pinjaman global juga merambat naik. Terjadi aksi jual utang pemerintah jangka panjang besar-besaran yang mendorong kenaikan imbal hasil obligasi 30 tahun di AS, Inggris, dan Jerman.

Padahal, ketegangan perdagangan sempat mereda setelah kedua pihak mencapai kesepakatan di lapangan golf Turnberry milik Trump di Skotlandia pada Juli lalu. Perjanjian itu menetapkan tarif AS atas barang-barang Eropa sebesar 15%.

Angka ini turun dari ancaman awal sebesar 30% dalam gelombang tarif “Hari Pembebasan” pada April. Sebagai imbalannya, Eropa setuju berinvestasi di AS dan menjanjikan perubahan kebijakan guna mendongkrak ekspor AS.

Namun, ancaman Trump soal Greenland mengubah peta kebijakan. Manfred Weber, anggota Parlemen Eropa asal Jerman, menyatakan persetujuan kesepakatan tersebut tidak mungkin dilakukan saat ini.

Ketua komite perdagangan internasional Parlemen Eropa, Bernd Lange, menegaskan tidak ada pilihan lain selain menangguhkan kerja sama tersebut. Menurutnya, tindakan AS telah merusak stabilitas hubungan kedua pihak.

“Dengan mengancam integritas teritorial dan kedaulatan negara anggota Uni Eropa serta menggunakan tarif sebagai instrumen koersif, AS merusak stabilitas dan prediksi hubungan perdagangan Uni Eropa-AS,” kata Lange.

Ia menekankan pengerjaan usulan legislatif Turnberry harus dihentikan sementara. Kerja sama baru bisa berlanjut jika AS memutuskan kembali ke jalur kolaborasi daripada konfrontasi.

Penangguhan ini membuka peluang Uni Eropa melancarkan aksi balasan. Blok tersebut telah menyiapkan daftar barang AS senilai 93 miliar Euro atau sekitar 109 miliar USD yang bakal dikenai tarif.

Masa penangguhan rencana tarif balasan tersebut akan berakhir pada 6 Februari 2026 mendatang. Artinya, tarif balasan Uni Eropa akan berlaku mulai 7 Februari 2026 kecuali blok tersebut melakukan perpanjangan.

Presiden Prancis, Emmanuel Macron, mendesak Uni Eropa mempertimbangkan opsi balasan. Ia menyebut akumulasi tarif baru dari Washington merupakan hal yang tidak dapat diterima secara fundamental.

“Terlebih lagi ketika tarif tersebut digunakan sebagai pengungkit terhadap kedaulatan teritorial,” ujar Macron dalam pidatonya di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos.

Dari Davos, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, meminta para pemimpin Eropa tidak melakukan pembalasan. Ia mengimbau semua pihak untuk tetap tenang dan berpikiran terbuka.

“Saya katakan kepada semua orang, duduklah kembali. Tarik napas dalam-dalam. Jangan membalas. Presiden akan berada di sini besok, dan ia akan menyampaikan pesannya,” tutur Bessent.

Sebaliknya, Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, memperingatkan AS tidak akan membiarkan pembalasan tanpa respon. Ia menekankan hal-hal buruk bisa terjadi jika sarannya tidak diikuti.

“Apa yang saya temukan adalah ketika negara-negara mengikuti saran saya, mereka cenderung baik-baik saja. Ketika mereka tidak melakukannya, hal-hal gila terjadi,” tegas Greer.

AS dan Uni Eropa merupakan mitra dagang terbesar di dunia. Nilai pertukaran barang dan jasa keduanya mencapai lebih dari 1,6 triliun Euro atau sekitar 1,9 triliun USD pada 2024. Angka ini mewakili hampir sepertiga dari seluruh perdagangan global. (daiz)

- Advertisement -

Artikel Terkait

Trump Ancam Tarif NATO Demi Greenland, Wall Street Alami Hari Terburuk Sejak Oktober

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Ancaman Perang Dagang Trump Picu Aksi Jual, Bursa Saham Eropa Berakhir Memerah

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup melemah pada...

Investor Khawatir Perang Dagang Trump Soal Greenland, Mayoritas Bursa Asia Memerah

STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Mayoritas bursa saham di kawasan Asia-Pasifik...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer 7 Hari

Berita Terbaru