STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak mentah dunia kembali ditutup menguat lebih dari US$1 per barel pada perdagangan Selasa (23/9/2025) waktu setempat atau Kamis pagi (24/9/2025) WIB. Penguatan ini terjadi setelah rencana dimulainya kembali ekspor minyak dari wilayah Kurdi, Irak, kembali tertunda. Pasar sempat khawatir pasokan global akan membanjir jika pengiriman dilanjutkan.
Mengutip CNBC International, kontrak berjangka Brent naik US$1,06 atau 1,59% menjadi US$67,63 per barel
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat US$1,13 atau 1,81% ke level US$63,41 per barel, di New York Mercantile Exchange. Kenaikan ini berhasil menutupi kerugian tipis di awal perdagangan.
Sebelumnya, Brent dan WTI sudah jatuh dalam empat sesi beruntun dengan penurunan sekitar 3%. Reli hari ini membantu harga minyak keluar dari tekanan yang cukup panjang.
Ekspor minyak dari wilayah Kurdi melalui pipa ke Turki masih terhenti meski ada harapan kesepakatan. Dua produsen besar meminta jaminan pembayaran utang sebelum pasokan bisa kembali mengalir.
Kesepakatan antara pemerintah Irak, pemerintah regional Kurdi, dan perusahaan minyak diharapkan bisa memulihkan pengiriman sekitar 230.000 barel per hari ke pasar global. Ekspor itu telah terhenti sejak Maret 2023.
“Ini contoh sempurna dari jangan menghitung barel sebelum dipompa. Pasar sempat dijual karena ada laporan kesepakatan Kurdi, dan ketiadaan kesepakatan sekarang justru mengurangi pasokan di pasar,” kata Phil Flynn, Senior Analyst Price Futures Group.
Meski harga naik, pasar minyak global masih dibayangi kelebihan pasokan dan pelemahan permintaan. Peralihan ke kendaraan listrik dan tekanan ekonomi dari tarif Amerika Serikat menekan permintaan bahan bakar fosil.
Dalam laporan bulanan terbarunya, International Energy Agency (IEA) menyebut suplai minyak dunia akan tumbuh lebih cepat tahun ini dan surplus bisa semakin besar pada 2026. Peningkatan produksi OPEC+ serta pasokan dari luar kelompok produsen jadi pendorong utama.
Di sisi lain, pasar juga menyoroti kemungkinan Uni Eropa memperketat sanksi terhadap ekspor minyak Rusia serta potensi eskalasi konflik di Timur Tengah.
“Faktor pendukung masih rendahnya inventaris minyak di negara OECD,” ujar analis UBS Giovanni Staunovo. “Namun ekspor minyak mentah dari OPEC+ yang lebih tinggi menjadi hambatan, begitu juga tidak adanya sanksi baru terhadap ekspor minyak Rusia.”
Di Amerika Serikat, stok minyak mentah diperkirakan naik pekan lalu. Namun persediaan bensin dan distilat kemungkinan menurun. “Pasar akan sangat memperhatikan stok distilat, sisi rapuh dari pasar,” ucap Flynn.
Ia menambahkan, kenaikan persediaan distilat bisa meredakan kekhawatiran terkait suplai Rusia di tengah serangan ke infrastruktur energi negara itu. Militer Ukraina melaporkan telah menyerang dua fasilitas distribusi minyak di wilayah Bryansk dan Samara.
