back to top

Inflasi Inggris Mereda, Bursa Eropa Menghijau Dipimpin FTSE 100

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa mayoritas ditutup menguat pada perdagangan Rabu (16/12/2025) waktu setempat. Investor kini tengah bersiap menghadapi serangkaian keputusan penting dari bank sentral.

Mengutip CNBC International, indeks Stoxx Europe 600 yang berisi saham-saham utama di Eropa menutup sesi tepat di atas garis datar dengan perubahan tipis 0,00% di level 579,79. Sektor-sektor bergerak beragam, namun sebagian besar bursa utama berada di zona positif.

Indeks FTSE 100 London memimpin kenaikan regional dengan lonjakan 0,92% menjadi 9.774,32. Kenaikan ini terjadi setelah rilis data inflasi Inggris. Tingkat inflasi Inggris mendingin menjadi 3,2% pada November. Angka ini turun dari 3,6% pada bulan sebelumnya.

Indeks FTSE MIB Italia naik 0,25% ke posisi 44.099,48. IBEX 35 Spanyol juga menguat 0,10% menjadi 16.938,20. Sebaliknya, indeks DAX Jerman terkoreksi 0,48% ke 23.960,59 dan CAC 40 Prancis turun 0,25% menjadi 8.086,05.

Pasar saham Inggris terangkat oleh sektor jasa keuangan dan pembangunan rumah. Saham-saham ini bereaksi positif terhadap angka inflasi November. Selain itu, ada prospek pemangkasan suku bunga dari Bank of England (BOE) minggu ini.

Komite kebijakan moneter BOE diperkirakan akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%. Langkah ini diambil mengingat latar belakang pertumbuhan yang lesu serta tanda-tanda pengangguran yang mungkin merangkak naik.

Saham pembangunan rumah Barratt Redrow melonjak 3,7% dan memuncaki indeks FTSE 100. Sementara itu, perusahaan tabungan pensiun Phoenix Group mengakhiri sesi dengan kenaikan 3,3%.

Mata uang Pound Inggris melemah pasca rilis data inflasi. Pound terakhir terlihat diperdagangkan sekitar 0,2% lebih rendah terhadap dolar AS. Terhadap euro, pound kehilangan nilainya sekitar 0,3%.

Imbal hasil obligasi pemerintah Inggris atau gilts turun di seluruh kurva menyusul data inflasi tersebut. Imbal hasil obligasi acuan tenor 10 tahun turun 4 basis poin. Obligasi jangka panjang tenor 30 tahun juga mencatatkan penurunan imbal hasil sebesar 4 basis poin.

Harga obligasi dan imbal hasil bergerak berlawanan arah. Saat ini, Inggris memiliki biaya pinjaman jangka panjang tertinggi dibandingkan negara G7 lainnya. Obligasi tenor 20 dan 30 tahun diperdagangkan dengan imbal hasil di atas ambang batas kritis 5%.

Aksi bank sentral di seluruh Eropa tetap menjadi fokus minggu ini. Bank Sentral Eropa (ECB) dijadwalkan mengadakan pertemuan kebijakan terakhir tahun ini pada Kamis.

Bank sentral diperkirakan akan menahan suku bunga di level 2%. Presiden ECB Christine Lagarde mengatakan kemungkinan akan menaikkan perkiraan pertumbuhan zona euro lagi. Pada September lalu, mereka telah menaikkan perkiraan pertumbuhan PDB tahunan menjadi 1,2%.

Selain itu, Riksbank dan Norges Bank juga akan mengambil keputusan kebijakan moneter terakhir mereka untuk tahun 2025 pada pekan ini.

Dari sektor korporasi, raksasa minuman Diageo mengumumkan penjualan 65% sahamnya di East African Breweries. Saham tersebut dijual kepada Asahi Holdings Jepang senilai sekitar US$ 2,3 miliar. Saham Diageo berakhir turun 0,2%.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Wall Street Kembali Perkasa, Indeks Dow Jones Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Masa

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Bursa Eropa Kompak Menguat, Saham NatWest Anjlok 9%Usai Akuisisi USD 3,7 Miliar

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa kompak menguat pada...

Nikkei Cetak Sejarah Tembus 57.000, Kemenangan Sanae Takaichi Terbangkan Bursa Asia

STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik kompak...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru