STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dan perak dunia kompak melemah pada akhir perdagangan Selasa (17/2/2026) waktu setempat atau Rabu pagi (18/2/2026) WIB. Penurunan ini terjadi saat investor menunggu rilis data ekonomi terbaru yang sempat tertunda. Minimnya kabar geopolitik selama pekan perdagangan yang pendek turut memengaruhi minat pasar.
Mengutip CNBC International, harga emas spot turun lebih dari 2% ke level USD 4.865,41 per ons troi. Di pasar berjangka AS, kontrak emas juga kehilangan 3% dan diperdagangkan pada posisi USD 4.889,30 per ons troi.
Harga perak mencatatkan koreksi yang lebih dalam. Perak spot turun 4,6% menjadi sekitar USD 73,07 per ons troi. Sementara itu, harga perak berjangka anjlok 6% ke level USD 73,05 per ons troi.
Kelesuan harga logam mulia menyeret turun saham-saham perusahaan tambang perak di Amerika Serikat. Saham Hecla Mining merosot 5,8%. Perusahaan ini merupakan pemilik tambang perak Green Creek di Alaska yang menjadi salah satu tambang terbesar di dunia.
Penurunan juga menimpa First Majestic Silver sebesar 6% dan Coeur Mining yang kehilangan 3,8%. Saham Teck Resources melemah 2,5%, sedangkan Silvercorp Metals turun 5,6%. Saham Wheaton Precious Metals juga tidak luput dari koreksi sebesar 3,4%.
Dana kelolaan perak atau ETF turut mengalami tekanan hebat. ProShares Ultra Silver jatuh 10,8%. Sementara itu, iShares Silver Trust turun sedikit di atas 5%.
Meski tensi geopolitik di Timur Tengah kembali muncul, analis Deutsche Bank memberikan catatan menarik. Mereka menilai harga perak saat ini masih tergolong rendah jika ditarik jauh ke belakang secara historis.
“perak diperdagangkan USD 7 di bawah harga penyesuaian riilnya pada tahun 1790,” tulis analis Deutsche Bank dalam nota yang dipublikasikan Selasa.
Tekanan pada logam mulia sebelumnya sempat memuncak pada akhir Januari lalu. Saat itu, investor merespons nominasi Kevin Warsh sebagai calon pemimpin bank sentral AS atau Federal Reserve. Kabar ini sempat memicu penguatan nilai tukar dolar AS.
Harga perak berjangka bahkan sempat terjun bebas hingga 30% pada periode tersebut. Catatan itu menjadi hari terburuk bagi perak sejak Maret 1980. Namun, aksi jual tersebut berlangsung singkat karena emas dan perak sempat bangkit kembali pada awal Februari.
Di sisi lain, perusahaan tambang global BHP menyepakati kerja sama besar dengan Wheaton Precious Metals. Raksasa tambang tersebut menandatangani perjanjian jangka panjang untuk pengiriman perak dari tambang Antamina.
Melalui kesepakatan ini, BHP akan menerima pembayaran di muka sebesar USD 4,3 miliar. Sebagai imbalannya, BHP akan mengirimkan perak yang diproduksi dari tambang tersebut di masa depan.
