back to top

Kinerja ASML dan LVMH Tak Mampu Bendung Pelemahan, Bursa Saham Eropa Berakhir Merah

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup di zona negatif pada akhir perdagangan Rabu (28/1/2026) waktu setempat. Pergerakan ini terjadi saat investor regional memantau sejumlah laporan kinerja keuangan utama emiten. Fokus pasar juga tertuju pada laporan pendapatan perusahaan teknologi besar dari Amerika Serikat (AS).

Mengutip CNBC International, indeks Stoxx Europe 600 yang berisi saham-saham utama di Eropa berakhir turun 0,75% ke posisi 608,51. Seluruh bursa utama di kawasan tersebut berada di zona merah dengan pergerakan sektor yang beragam. Indeks CAC 40 Prancis turun 1,06% ke level 8.066,68. FTSE MIB Italia melemah 0,66% ke posisi 45.138,73.

Indeks FTSE 100 Inggris terkoreksi 0,52% ke level 10.154,43. DAX Jerman turun 0,29% ke posisi 24.822,79. Sementara itu, IBEX 35 Spanyol merosot 1,10% ke level 17.607,60.

Raksasa semikonduktor asal Belanda, ASML, melaporkan jumlah pesanan yang melampaui ekspektasi pasar. Panduan penjualan tahun 2026 milik perusahaan ini juga berada di atas estimasi analis. Tren positif ini didorong oleh berlanjutnya lonjakan permintaan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Saham ASML sempat melonjak 5,9% pada awal perdagangan. Kenaikan ini sempat menarik saham perusahaan chip Eropa lainnya ke zona hijau. Namun, saham ASML berbalik arah dan ditutup melemah 1,9%.

Nasib serupa dialami pembuat peralatan chip ASMI yang berakhir turun 1,2%. Di sisi lain, STMicro berhasil menguat 1,9% dan Infineon naik 3%. Tekanan juga datang dari sektor barang mewah regional.

Konglomerat barang mewah Eropa, LVMH, berakhir turun tajam 7,9%. Padahal, perusahaan melaporkan pendapatan yang lebih baik dari ekspektasi pada Selasa malam. LVMH juga mencatatkan pertumbuhan pendapatan organik selama dua kuartal berturut-turut.

Investor kini mengalihkan perhatian pada laporan keuangan Microsoft, Meta Platforms, dan Tesla. Ketiga raksasa teknologi ini dijadwalkan merilis hasil keuangan mereka setelah penutupan bursa AS. Sementara itu, Apple akan menyusul pada hari Kamis.

Pasar juga menanti keputusan suku bunga pertama tahun ini dari Federal Reserve (The Fed). Bank sentral AS diprediksi tetap mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,5% hingga 3,75%. Pelaku pasar mencari petunjuk mengenai perubahan kebijakan moneter jangka panjang.

“Indikator yang tersedia menunjukkan aktivitas ekonomi telah berkembang pada kecepatan yang solid. Penambahan lapangan kerja tetap rendah, dan tingkat pengangguran menunjukkan beberapa tanda stabilisasi,” tulis bank sentral dalam pernyataannya.

Pihak otoritas moneter tersebut juga memberikan catatan mengenai kondisi harga. “Inflasi tetap agak tinggi,” tambah bank sentral.

Data perdagangan berjangka menunjukkan kemungkinan dua kali penurunan suku bunga sebesar seperempat poin pada akhir tahun 2026. Hal ini didasarkan pada CME FedWatch Tool. Suku bunga yang stabil diharapkan dapat menjaga keseimbangan ekonomi AS.

- Advertisement -

Artikel Terkait

S&P 500 Cetak Rekor Tertinggi 7.000, Wall Street Ditutup Bervariasi Usai Keputusan The Fed

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

The Fed Tahan Suku Bunga: Ekonomi AS Membaik di Tengah Gejolak Politik Donald Trump

STOCKWATCH.ID (WASHINGTON, D.C) – Federal Reserve (The Fed) mempertahankan...

Efek Janji Manis Trump ke Seoul, Indeks Kospi Kembali Cetak Rekor Tertinggi

STOCKWATCH.ID (SEOUL) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik bergerak...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer 7 Hari

Berita Terbaru