back to top

Pasar Modal RI Tertekan Outflow Rp16,49 Triliun, BRIDS: Butuh Kejelasan MSCI dan Moody’s

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Pasar modal Indonesia tengah menghadapi tekanan besar dari aksi jual investor asing pada awal tahun 2026. Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 9–13 Februari 2026 mencatat nilai jual bersih asing mencapai Rp2,03 triliun dalam sehari.

Secara akumulatif, investor asing sudah mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp16,49 triliun sepanjang tahun 2026. Kondisi ini turut menekan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Chief Economist, Macro Strategist & Debt Research Division Head PT BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Helmy Kristanto, menilai situasi ini dipicu oleh sentimen global. Lembaga pemeringkat Moody’s baru-baru ini menurunkan outlook Indonesia, ditambah adanya isu perhitungan indeks MSCI.

Helmy menjelaskan investor asing yang mengelola dana secara aktif biasanya cenderung menunggu kepastian sebelum kembali masuk. Namun, ia tetap optimistis modal asing akan kembali ke pasar domestik.

“Tentunya apakah asing bisa kembali lagi? Saya rasa itu sangat mungkin, ya. Karena warning itu tidak serta merta nanti akan berupa final verdict-nya,” ujar Helmy usai acara Market Outlook 2026 di Jakarta, Jumat (13/2).

Pemerintah melalui OJK dan BEI telah bergerak cepat melakukan pertemuan maraton guna menyamakan persepsi dengan MSCI. Fokus utama pembicaraan mencakup metode perhitungan free float agar lebih seragam dengan standar global.

Helmy mencontohkan langkah serupa pernah dilakukan India untuk menarik minat investor. Regulator India menyelaraskan batasan kepemilikan asing pada saham dengan tren investasi langsung (Foreign Direct Investment/FDI).

Sebelum isu MSCI dan Moody’s muncul, IHSG sebenarnya sempat menguat 3,2% di awal tahun. Saat itu, aliran modal asing masuk cukup deras baik ke pasar obligasi maupun saham.

“Paradigma pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih baik, berarti investasi kepada riskier asset misalnya saham dibanding obligasi cenderung meningkat,” tuturnya.

Terkait penurunan outlook oleh Moody’s, Helmy menyebut lembaga tersebut memang sangat reaktif terhadap perubahan kebijakan. Meski outlook menjadi negatif, peringkat investasi (rating) Indonesia tetap berada pada level investment grade.

Berbeda dengan Moody’s, lembaga lain seperti Fitch dan S&P lebih melihat sisi kuantitatif. Mereka baru akan bertindak jika ekonomi melambat, defisit fiskal melebihi 3%, atau kinerja transaksi berjalan memburuk.

“Mereka langsung balik lagi upgrade-nya dari negatif menjadi stable jika policy-nya sudah lebih selaras dan prediktabilitasnya sudah lebih baik,” kata Helmy.

Saat ini investor masih menunggu kejelasan hingga tenggat waktu dari MSCI pada Mei mendatang. Kejelasan informasi sangat krusial karena pasar modal merupakan indikator awal bagi masuknya FDI atau investasi jangka panjang.

Helmy mengapresiasi langkah cepat pemerintah dalam menjaga stabilitas investasi yang likuid di pasar obligasi dan saham. Stabilitas ini penting agar investor yang ingin membangun pabrik atau investasi jangka panjang tidak ikut menunggu.

“Pemerintah bergerak sangat cepat karena ya harus memang yang liquid investment… harus stabil dan baik dulu,” jelasnya.

Ia berharap MSCI segera memberikan pernyataan resmi terkait upaya perbaikan yang telah dilakukan otoritas Indonesia. Hal ini diperlukan untuk memberikan kepastian hukum dan teknis bagi para pelaku pasar global.

“Harapan saya sih MSCI memberikan deadline bulan Mei ya sebaiknya juga mereka kalau bisa ya sudah mulai ada statement-statement,” pungkas Helmy.

- Advertisement -

Artikel Terkait

BEI Minta Penjelasan, KPIG Resmi Sebut Hary Tanoesoedibjo sebagai UBO

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT MNC Tourism Indonesia Tbk (KPIG)...

Pakar Feng Shui Ungkap Cara Cuan di 2026: Beli Emas, Sabar di Saham

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Tahun 2026 telah tiba. Kalender Tiongkok...

Pasar Saham Bergejolak, Mirae Asset Sekuritas Sarankan Diversifikasi ke Reksa Dana

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia mencermati...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru