STOCKWATCH.ID (SEOUL) – Bursa saham di kawasan Asia berguguran pada penutupan perdagangan Rabu (4/3/2026). Eskalasi perang di Timur Tengah merusak sentimen investor. Indeks Kospi di Korea Selatan mencatat rekor penurunan harian terburuk sepanjang sejarah.
Mengutip CNBC International, Indeks Kospi anjlok 12,1% ke level 5.093,54. Bursa Korea (Korea Exchange) sampai menghentikan sementara sesi perdagangan. Sistem penghenti perdagangan otomatis (circuit breaker) juga aktif pada indeks Kosdaq. Kosdaq akhirnya ditutup merosot 14% ke posisi 978,44.
Saham-saham berkapitalisasi besar rontok bergeletakan. Harga saham SK Hynix turun sekitar 10%. Saham Samsung Electronics merosot hampir 12%.
Padahal pasar saham Korea Selatan sempat melesat lebih dari 75% tahun lalu. Kenaikan ini terus berlanjut hingga memasuki tahun baru. Rekor tertinggi Kospi sebelumnya tertopang oleh kuatnya permintaan chip memori.
Lorraine Tan, Direktur Riset Ekuitas Asia Morningstar, memaparkan analisanya. “Penurunan KOSPI secara umum dapat dikaitkan dengan konsentrasi nama tunggal di pasar Korea,” kata Tan.
Data Morningstar mencatat dominasi saham raksasa teknologi. Samsung dan SK Hynix menguasai hampir 50% komposisi indeks Kospi.
“Kami yakin penurunan harga saham ini sebagian terdorong oleh aksi ambil untung setelah kenaikan kuat di tengah lingkungan penghindaran risiko. Hal ini juga menyiratkan kekhawatiran laju adopsi pusat data AI mungkin melambat karena biaya energinya jauh lebih tinggi daripada pusat data biasa,” ujar Tan.
Pasar saham Korea Selatan sangat sensitif terhadap fluktuasi harga minyak mentah dunia. Guncangan geopolitik di Timur Tengah selalu memicu volatilitas jangka pendek. Hal ini dijelaskan oleh Daniel Yoo, Ahli Strategi Pasar Global di Yuanta Securities.
Korea adalah importir minyak utama dunia. Ekonomi negara ini sangat bergantung pada sektor manufaktur. Kenaikan biaya energi otomatis menekan sektor industri dan ekspor.
Yoo menilai penurunan Kospi baru-baru ini sebagai bentuk koreksi wajar pasca reli pasar. Kondisi ini bukan sebuah perubahan mendasar dalam prospek pasar. Stabilitas pasar kemungkinan kembali tercipta pasca harga minyak tenang.
Tingkat impor minyak bersih Korea Selatan setara dengan 2,7% dari produk domestik bruto (PDB). Nomura memasukkan Korea ke dalam daftar negara paling rentan terhadap tekanan transaksi berjalan.
Kepanikan turut melanda bursa Asia lainnya. Indeks Nikkei 225 Jepang anjlok 3,61% menjadi 54.245,54. Indeks Topix merosot 3,67% ke level 3.633,67.
Indeks S&P/ASX 200 Australia ikut melemah 1,94% ke 8.901,2. Indeks Hang Seng Hong Kong susut lebih dari 2,28% ke 25.249,48. Indeks CSI 300 di China turun 1,14% menjadi 4.602,62. Indeks Shanghai melemah 0,98% ke 4.082,47. Indeks Nifty 50 India juga turun 1,55% ke 24.480,50.
Pelaku pasar juga memantau pertemuan parlemen tahunan pembuat kebijakan China. Rangkaian acara berjuluk “Dua Sesi” ini resmi dimulai. Kongres Rakyat Nasional (NPC) rencananya dibuka pada hari Kamis.
Perdana Menteri China Li Qiang siap mengumumkan serangkaian target ekonomi baru di acara NPC. Target-target tersebut sebagian besar sudah disepakati pada pertemuan Desember lalu.
Aktivitas pabrik China terpantau lesu pada bulan Februari. Mayoritas produsen sengaja menghentikan produksi dan pengiriman kargo demi menikmati libur panjang liburan.
Indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur resmi turun ke angka 49. Pencapaian dari Biro Statistik Nasional ini meleset dari perkiraan ekonom sebesar 49,1.
