Rapor Bank Himbara Kuartal I 2026: Adu Kuat Laba, Siapa Jawara Cetak Untung Tertinggi?
STOCKWATCH.ID (JAKARTA) โ Di tengah meningkatnya risiko global akibat eskalasi konflik geopolitik, industri perbankan nasional tetap stabil. Empat bank pelat merah yang tergabung dalam Himbara (Himpun...
BRI pun tak kalah agresif menyalurkan dana. Ekspansi kredit BBRI tercatat tumbuh 13,7% YoY menjadi Rp1.562 triliun. Segmen UMKM masih menjadi andalan BRI dengan penyaluran mencapai Rp1.211 triliun. Di sisi lain, BTN konsisten menyalurkan kredit hingga mencapai Rp400,63 triliun atau naik 10,3% YoY. Di tubuh BTN, KPR subsidi masih merajai mesin penyaluran kredit.
Adu kekuatan juga terlihat pada penghimpunan dana murah atau Current Account Saving Account (CASA). BNI sukses memacu pertumbuhan CASA tertinggi sebesar 26,6% YoY menjadi Rp731,6 triliun. Pertumbuhan CASA BRI juga tergolong solid sebesar 13,2% YoY menuju angka Rp1.058,6 triliun. Bank Mandiri ikut mencetak CASA jumbo sebesar Rp1.201 triliun atau tumbuh 12,7% YoY. Adapun CASA BTN terus tumbuh positif 7,9% YoY menjadi Rp212,11 triliun.
Laju margin terekam jelas dari kenaikan pendapatan. BNI mencatat pertumbuhan pendapatan non-bunga atau fee-based income sebesar 12,6% YoY berkat optimalisasi digital. Pendapatan bunga bersih (NII) BNI juga tumbuh 12,1% YoY. Setali tiga uang, BTN ikut mencatat kenaikan pendapatan bunga dan bagi hasil neto sebesar 12,26% menjadi Rp4,24 triliun.
Kualitas aset bank pelat merah juga patut diacungi jempol. Bank Mandiri membukukan rekor kualitas aset paling bersih. Non-Performing Loan (NPL) Gross BMRI hanya berada di level 0,98%. BNI menyusul dengan mencetak perbaikan rasio NPL ke level 1,9%. Sementara itu, BTN mampu menjaga NPL gross di level 3,12% dan NPL net 1,95%. Di kubu BRI, kualitas aset terkendali dengan rasio Loan at Risk (LAR) yang membaik ke angka 9,7% dari sebelumnya 11,1%.
Lantas, seberapa tebal 'bantalan' pencadangan bank-bank ini? Bank Mandiri tampil paling siap mengantisipasi risiko. NPL Coverage Ratio BMRI dipatok sangat tebal di level 245%. Bantalan ini menjadi pelindung ampuh dari potensi gagal bayar segmen korporasi maupun UMKM. BNI turut menerapkan tingkat pencadangan memadai dengan menekan credit cost di level 1,1%. BTN juga melakukan efisiensi serupa, angka penyisihan kerugian penurunan nilai aset sukses ditekan menjadi Rp845,72 miliar.
- Daftar Antrean IPO BEI Terbaru: Dua Perusahaan Skala Besar Bersiap Masuk Bursa
- IHSG Naik 0,64% Pekan Ini, Kapitalisasi Pasar BEI Tembus Rp10.923 Triliun
- BEI Ubah Notasi Khusus Emiten di JATS, Investor Kini Dapat Informasi Lebih Jelas
- BEI Resmi Tetapkan Kriteria Saham Berbasis Hijau (Green Equity Designation)
- Harga Emas Dunia Terkoreksi 2%, Namun Tetap Cetak Kinerja Bulanan Terbaik Sejak...
- Laba Bersih MSIN Naik 13,6% Jadi Rp279 Miliar di Semester I 2026
- TCPI Catat Laba Rp123,4 Miliar, Tumbuh 25% di Semester I 2026
- Laba ABMM Melonjak 41,9% Jadi USD39,4 Juta di Semester I 2026, Ini Penopangnya
- Daftar Antrean IPO BEI Terbaru: Dua Perusahaan Skala Besar Bersiap Masuk Bursa
- IHSG Naik 0,64% Pekan Ini, Kapitalisasi Pasar BEI Tembus Rp10.923 Triliun
- Daftar Antrean IPO BEI Terbaru: Dua Perusahaan Skala Besar Bersiap Masuk Bursa
- Bursa Asia Ditutup Menguat, KOSPI Catat Kenaikan Harian Terbesar Sepanjang Sejar...
- BEI Ubah Notasi Khusus Emiten di JATS, Investor Kini Dapat Informasi Lebih Jelas
- Bursa Saham Eropa Bervariasi, Tersengat Sentimen AI dan Inflasi Zona Euro
- BEI Resmi Tetapkan Kriteria Saham Berbasis Hijau (Green Equity Designation)