STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street babak belur pada penutupan perdagangan Selasa (20/1/2026) waktu setempat atau Rabu pagi (21/1/2026) WIB. Indeks Dow Jones terjun bebas 870 poin setelah Presiden Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif baru bagi negara-negara yang menolak penjualan Greenland.
Aksi jual besar-besaran ini dipicu oleh retorika keras Trump terhadap Denmark dan sejumlah anggota NATO. Ancaman tersebut memicu kekhawatiran pelaku pasar akan terjadinya ketidakpastian kebijakan baru.
Mengutip CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York merosot 870,74 poin atau 1,76% ke level 48.488,59. Indeks S&P 500 (SPX) juga anjlok 2,06% ke posisi 6.796,86. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) yang didominasi saham teknologi, ambles 2,39% dan berakhir di level 22.954,32.
Pencapaian ini menjadi sesi terburuk bagi ketiga indeks utama tersebut sejak Oktober lalu. Penurunan tajam ini menyeret kinerja S&P 500 dan Nasdaq masuk ke zona negatif sepanjang tahun 2026. S&P 500 tercatat turun 0,7% dan Nasdaq merosot 1,2% dalam periode berjalan.
Indeks Volatilitas Cboe (VIX), yang sering disebut sebagai pengukur ketakutan Wall Street, melonjak ke level 20,99. Ketegangan ini bermula dari unggahan Trump di Truth Social. Ia mengancam delapan anggota NATO dengan kenaikan tarif impor secara bertahap.
Kebijakan tarif tersebut akan diberlakukan sampai tercapai kesepakatan pembelian total atas Greenland. Tarif dijadwalkan mulai sebesar 10% pada 1 Februari dan naik menjadi 25% pada 1 Juni mendatang.
Trump juga mengancam tarif 200% untuk anggur dan sampanye asal Prancis. Langkah ini diambil lantaran Presiden Emmanuel Macron enggan bergabung dengan lembaga yang disebut Trump sebagai Board of Peace.
Chief Investment Officer Wealthspire, Brad Long, mengaku tidak terkejut dengan tekanan pada pasar saham. Menurutnya, pasar saat ini sudah berada pada tingkat valuasi dan ekspektasi laba yang sangat tinggi.
“Meskipun tarif bukan hal baru dan minat pemerintah terhadap Greenland juga bukan hal baru, penggunaan tarif sebagai senjata dalam jangka pendek untuk mencapai tujuan non-ekonomi atau mungkin tujuan ekonomi sampingan adalah hal yang baru,” ujar Brad Long kepada CNBC.
Dampak ancaman ini turut menjalar ke pasar obligasi. Imbal hasil (yield) Treasury AS melonjak, sementara nilai tukar mata uang USD mengalami penurunan. Investor mulai beralih menjauh dari aset-aset Amerika Serikat.
Operator dana pensiun asal Denmark, AkademikerPension, bahkan menyatakan keluar dari kepemilikan Treasury AS. Mereka khawatir terhadap kondisi keuangan atas tumpukan utang Amerika Serikat.
Pendiri Bridgewater Associates, Ray Dalio, turut menyoroti potensi konflik modal ini. Hal tersebut ia sampaikan di sela-sela Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss.
“Di sisi lain dari defisit perdagangan dan perang dagang, ada modal dan perang modal. Jika Anda melihat konflik tersebut, Anda tidak bisa mengabaikan kemungkinan terjadinya perang modal. Dengan kata lain, mungkin tidak ada keinginan yang sama untuk membeli utang AS dan sebagainya,” kata Ray Dalio.
Di sisi lain, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, justru membela rencana pengambilalihan Greenland tersebut. Ia menilai langkah ini merupakan strategi pencegahan konflik yang lebih besar.
“Itu akan menghentikan segala jenis perang kinetik, jadi mengapa tidak mencegah masalah sebelum dimulai?” tutur Scott Bessent kepada CNBC.
Trump sendiri dijadwalkan berbicara di Davos pada Rabu waktu setempat. Ia setuju untuk bertemu dengan para pemimpin Eropa guna membahas ambisinya atas wilayah Greenland tersebut. (daiz)
