STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT VKTR Teknologi Tbk (VKTR) mencatat rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp11,37 miliar (Rp0,26 per saham) sepanjang tahun 2025. Padahal pada tahun 2024, VKTR membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp7,57 miliar (Rp0,17 per saham).
Rugi ini terjadi di tengah peningkatan penjualan bersih VKTR sekitar 8,57% dari Rp1,003 triliun pada 2024 menjadi Rp1,089 triliun pada 2025. Meski beban pokok penjualan naik 8,13% dari Rp825,51 miliar menjadi Rp892,63 miliar, laba bruto VKTR tetap tumbuh 10,36% dari Rp178,15 miliar menjadi Rp196,61 miliar.
Sayangnya, total beban usaha meningkat sekitar 11,37% dari Rp168,74 miliar menjadi Rp187,92 miliar. Inilah yang menyebabkan laba usaha VKTR terpangkas 7,55% menjadi Rp8,69 miliar pada 2025, dari Rp9,40 miliar pada 2024.
Selain itu, beban lain-lain neto naik 22,03% dari Rp4,04 miliar menjadi Rp4,93 miliar. Akibatnya laba sebelum pajak VKTR anjlok sebesar 72% dari Rp13,44 miliar pada 2024 menjadi Rp3,76 miliar hingga akhir tahun 2025.
Bahkan beban pajak neto VKTR meningkat 190,43% dari Rp1,15 miliar menjadi Rp3,34 miliar. Hal ini menyebabkan laba neto VKTR terpangkas sebesar 96,56% dari Rp12,293 miliar menjadi hanya sebesar Rp423 juta pada 2025.
Perseroan mencatat total ekuitas Rp1,24 triliun per Desember 2025, naik 7,83% dari Rp1,15 triliun per 31 Desember 2024. Sementara liabilitas VKTR meningkat 22,16% dari Rp452,68 miliar menjadi Rp553,02 miliar per 31 Desember 2025. Adapun total aset VKTR naik 11,87% dari Rp1,60 triliun per 31 Desember 2024 menjadi Rp1,79 triliun per 31 Desember 2025.
