back to top

Wall Street Bangkit! Indeks S&P 500 dan Nasdaq Menguat di Tengah Ketegangan Geopolitik

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup menguat pada akhir perdagangan Senin sore (16/3/2026) waktu setempat atau Selasa pagi (17/3/2026) WIB. Pasar saham berhasil bangkit setelah mengalami kerugian selama tiga minggu berturut-turut. Para investor kini fokus memantau perkembangan terbaru dari perang Iran.

Mengutip CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York bertambah 387,94 poin atau 0,83% ke level 46.946,41. Indeks S&P 500 (SPX) naik 1,01% dan berakhir di posisi 6.699,38. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) menguat 1,22% menjadi 22.374,18.

Kenaikan Wall Street didorong oleh melandainya harga minyak dunia. Saham Meta melonjak lebih dari 2% menyusul laporan rencana pengurangan lebih dari 20% tenaga kerja. Saham Nvidia juga naik lebih dari 1% bertepatan dengan dimulainya konferensi GTC pada hari Senin.

Sebelumnya, indeks S&P 500 sempat merosot ke level terendah tahun ini pada Jumat lalu. Namun, sentimen pasar membaik seiring penurunan harga komoditas energi. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) merosot 5,28% ke level USD 93,50 per barel. Minyak Brent juga turun 2,84% menjadi USD 100,21 per barel.

Menteri Keuangan Scott Bessent menyatakan Amerika Serikat mengizinkan kapal tanker Iran melewati Selat Hormuz. Selain itu, terdapat laporan rencana pembentukan koalisi negara-negara pengawal kapal di jalur tersebut. Sentimen ini meredam kekhawatiran gangguan pasokan energi global.

Presiden Donald Trump mendorong negara-negara lain untuk terlibat dalam pengamanan Selat Hormuz. Trump juga menyebut pihak Iran ingin melakukan kesepakatan. Meski demikian, ia mengaku belum siap untuk menjalin kesepakatan tersebut.

David Krakauer, Vice President of Portfolio Management di Mercer Advisors, memberikan analisanya. Ia menilai pelaku pasar menaruh kepercayaan tinggi terhadap langkah Presiden.

“Pasar benar-benar merasa Trump memikirkan kepentingan pasar, menurut saya, dalam pikirannya untuk jangka panjang,” ujar Krakauer. Ia menambahkan pasar menganggap Presiden bisa mengakhiri konflik jika situasi memburuk.

Krakauer juga mengingatkan kondisi pasar masih sangat dinamis akibat ketegangan geopolitik. Saat ini posisi S&P 500 berada sekitar 4% di bawah rekor tertinggi sepanjang masa.

“Ada ketidakpastian. Hal-hal berubah dengan cepat,” kata Krakauer kepada CNBC. “Dalam kabut perang, Anda sebaiknya diam saja.”

Meski Wall Street menguat, volume perdagangan di bursa NYSE dan Nasdaq tercatat di bawah rata-rata. Investor cenderung berhati-hati di tengah situasi perang yang masih berlangsung. Performa pasar hari ini menghapus sebagian tekanan yang terjadi sepanjang pekan lalu.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Bursa Eropa Menguat, Saham Commerzbank Meroket 8,8% Usai Kabar Akuisisi UniCredit

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup menguat pada...

Bursa Asia Bergerak Variatif, Investor Pantau Konflik AS-Iran dan Harga Minyak Dunia

STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik bergerak...

Dihantui Bayang-bayang Stagflasi Akibat Krisis Iran, Wall Street Merah Tiga Pekan Beruntun

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru