STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup bervariasi pada akhir perdagangan Selasa sore (10/2/2025) waktu setempat atau Rabu pagi (11/2/2025) WIB. Indeks Dow Jones Industrial Average berhasil mencetak rekor penutupan tertinggi sepanjang masa. Sebaliknya, indeks S&P 500 dan Nasdaq justru berakhir di zona merah.
Mengutip CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York menguat 52,27 poin atau 0,10% ke level 50.188,14. Indeks S&P 500 (SPX) terkoreksi 0,33% dan berakhir di posisi 6.941,81. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) merosot 0,59% menjadi 23.102,47.
Dow Jones sempat mencapai rekor intraday ketiga berturut-turut pada sesi tersebut. Pencapaian ini terjadi setelah indeks melampaui level psikologis 50.000 untuk pertama kalinya pekan lalu. Namun, pergerakan indeks lainnya terbebani oleh sentimen negatif dari sektor ritel dan keuangan.
Saham peritel besar mengalami tekanan cukup dalam. Harga saham Costco jatuh lebih dari 2%. Saham Walmart juga merosot lebih dari 1%.
Penurunan ini dipicu oleh laporan data penjualan ritel terbaru. Pengeluaran konsumen pada bulan Desember tercatat stagnan atau 0,0%. Angka ini meleset dari perkiraan ekonom yang memprediksi kenaikan bulanan sebesar 0,4%. Padahal, penjualan ritel sempat tumbuh 0,6% pada November.
Kekhawatiran terhadap ancaman Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan terhadap sektor keuangan juga menekan pasar. Hal ini bermula setelah platform teknologi Altruist meluncurkan alat perencanaan pajak berbasis AI terbaru.
Kabar tersebut memicu aksi jual pada saham-saham perusahaan jasa keuangan konvensional. Saham LPL Financial anjlok 8,3%. Saham Charles Schwab merosot 7,4% dan Morgan Stanley turun lebih dari 2%.
Anthony Saglimbene, Chief Market Strategist Ameriprise Financial, memberikan penjelasannya kepada CNBC. Ia menyoroti kondisi psikologis konsumen saat ini.
“Komponen lain dari konsumen berpendapatan rendah dan menengah yang tertekan saat ini adalah bagaimana perasaan mereka terhadap lingkungan pekerjaan, dan kita tahu mereka sedikit lebih tidak pasti,” ujar Saglimbene.
Ia menambahkan kondisi pasar tenaga kerja akan sangat menentukan arah pasar selanjutnya. Investor kini tengah menantikan data pekerjaan yang akan dirilis Rabu dan indeks harga konsumen pada Jumat.
“Jika kita melihat pertumbuhan lapangan kerja yang lebih lemah dari perkiraan pada bulan Januari, hal itu bisa sedikit menekan tema perluasan ini,” lanjut Saglimbene.
Menurut Saglimbene, saat ini investor mulai melirik sektor yang dianggap lebih aman dari gangguan teknologi AI. Sektor material dan utilitas mulai menunjukkan penguatan.
“Tampaknya ada rotasi ke area lain yang mungkin lebih terlindungi dari perdagangan AI tersebut,” tambah Saglimbene.
Meski terjadi koreksi, kondisi teknikal pasar dinilai masih cukup kuat. Indeks S&P 500 berhasil bertahan di atas garis rata-rata pergerakan (moving average) 50 hari dan 100 hari. Para trader melihat hal ini sebagai sinyal bullish atau optimis untuk jangka menengah.
