back to top

Wall Street Memerah, Indeks Dow Jones Anjlok 768 Poin Akibat Kekhawatiran Inflasi

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup melemah tajam pada akhir perdagangan Rabu sore (18/3/2026) waktu setempat atau Kamis pagi (19/3/2026) WIB. Tekanan jual dipicu oleh rilis data ekonomi terbaru serta pernyataan pimpinan bank sentral yang memicu kekhawatiran inflasi.

Mengutip CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York merosot 768,11 poin atau 1,63% ke level 46.225,15. Indeks S&P 500 (SPX) juga jatuh 1,36% dan berakhir di posisi 6.624,70. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) yang didominasi saham teknologi, turun 1,46% menjadi 22.152,42.

Penurunan ini membawa indeks Dow Jones mencapai rekor penutupan terendah baru untuk tahun 2026. Indeks tersebut kini berada di bawah rata-rata pergerakan 200 hari. Sepanjang bulan ini, Dow sudah merosot lebih dari 5% dan menuju kinerja bulanan terburuk sejak 2022.

Bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan. Suku bunga tetap berada pada kisaran 3,5% hingga 3,75%. Pihak bank sentral mencatat adanya ketidakpastian ekonomi akibat situasi di Timur Tengah.

“Implikasi dari perkembangan di Timur Tengah bagi ekonomi AS tidak pasti,” tulis pernyataan resmi pasca pertemuan The Fed tersebut.

Ketua The Fed Jerome Powell memberikan keterangan dalam konferensi pers usai pengumuman tersebut. Ia mengakui adanya kemajuan dalam pengendalian inflasi meski tidak sesuai target awal.

“Perkiraannya adalah kita akan membuat kemajuan pada inflasi, tidak sebanyak yang kita harapkan, tetapi ada beberapa kemajuan pada inflasi,” ujar Jerome Powell.

Indeks Harga Produsen (PPI) yang melacak harga grosir melonjak 0,7% pada Februari. Angka ini jauh melampaui estimasi para ekonom yang memprediksi kenaikan sebesar 0,3%. Kondisi ini memperkuat dugaan inflasi sudah berada dalam posisi rawan sebelum pecahnya perang Iran.

Situasi tersebut memicu ketakutan akan terjadinya stagflasi di tengah lonjakan harga minyak. Todd Schoenberger, CIO CrossCheck Management, menyebut kenaikan harga ini bersifat struktural dan bukan sementara. Hal ini diperkirakan bakal memengaruhi kebijakan moneter hingga kuartal ketiga.

“Tambahkan harga energi yang lebih panas yang kita lihat sejak Perang Iran dimulai, yang belum muncul dalam laporan ini, dan Wall Street sedang bersiap menghadapi kenaikan harga yang cepat yang jelas akan mengalir ke tingkat konsumen,” tutur Todd Schoenberger.

Harga minyak mentah Brent naik 3,83% menjadi 107,38 USD per barel. Minyak West Texas Intermediate (WTI) juga ditutup menguat pada level 96,32 USD per barel. Lonjakan terjadi setelah Israel dilaporkan menyerang fasilitas gas terbesar Iran di Provinsi Bushehr.

Iran juga mengancam akan menyerang fasilitas minyak di Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Qatar. Ketegangan ini memicu kekhawatiran besar terhadap jalur pengiriman bahan bakar global.

Anshul Sharma, Chief Investment Officer Savvy Wealth, menilai pasar sedang berada dalam rezim volatilitas yang lebih tinggi. Ia memperingatkan dampak berkelanjutan jika harga minyak tidak kunjung melandai.

“Jika minyak tetap tinggi di sini … kita tahu itu akan menyaring ke dalam ekonomi,” kata Anshul Sharma.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Menanti Keputusan The Fed, Bursa Saham Eropa Kompak Berakhir Memerah

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham di kawasan Eropa ditutup...

Kospi Terbang 5%, Bursa Saham Asia Kompak Menghijau Jelang Pengumuman The Fed

STOCKWATCH.ID (SEOUL) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik kompak...

Tunggu Pengganti Resmi, Jerome H. Powell Siap Bertahan Pimpin The Fed

STOCKWATCH.ID (WASHINGTON) – Jerome H. Powell menyatakan akan tetap...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru