STOCKWATCH.ID (JAKARTA) — Bursa Efek Indonesia (BEI) membawa kabar gembira bagi para investor saham. Otoritas bursa memutuskan untuk membuka kembali gembok perdagangan dua emiten sekaligus.
Kedua saham tersebut adalah PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) dan PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU). Pencabutan sanksi penghentian sementara perdagangan atau suspensi ini mulai berlaku besok.
Tepatnya, perdagangan akan dibuka kembali pada Sesi I, tanggal 1 Desember 2025. Investor kini bisa kembali melakukan transaksi jual beli atas kedua saham tersebut di Pasar Reguler maupun Pasar Tunai.
Keputusan ini disampaikan langsung oleh manajemen bursa pada akhir pekan ini. Langkah tersebut merujuk pada pengumuman bursa sebelumnya terkait suspensi kedua saham.
Kepala Divisi Pengawasan Transaksi Bursa Efek Indonesia (BEI), Yulianto Aji Sadono mengonfirmasi pembukaan suspensi ini. Ia menjelaskan status terkini untuk saham MORA.
“Berdasarkan penilaian Bursa, maka dengan ini diumumkan bahwa suspensi atas perdagangan saham PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) di Pasar Reguler dan Pasar Tunai dibuka kembali mulai sesi I tanggal 1 Desember 2025,” ujar Yulianto dalam keterbukaan informasi, dikutip Minggu (30/11/2025).
Hal serupa juga berlaku untuk saham RATU. Bursa telah melakukan penilaian tersendiri sebelum memutuskan untuk membuka kembali akses perdagangan saham emiten ini.
Yulianto menegaskan, “Maka dengan ini diumumkan bahwa suspensi atas perdagangan saham PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) di Pasar Reguler dan Pasar Tunai dibuka kembali mulai sesi I tanggal 1 Desember 2025.”
Sebelumnya, saham MORA sempat diistirahatkan paksa oleh bursa pada sesi I Senin, 17 November 2025. Suspensi dilakukan karena harga sahamnya melonjak signifikan dalam waktu singkat. BEI menyebut langkah ini untuk sebagai bentuk perlindungan bagi Investor.
Sementara itu, nasib serupa dialami saham RATU. BEI menghentikan sementara perdagangan saham RATU pada Jumat (28/11/2025). Langkah ini diambil sebagai upaya pendinginan atau cooling down.
Pergerakan harga saham tersebut dinilai sudah naik terlalu tinggi di luar kewajaran. Terjadi peningkatan harga kumulatif yang signifikan dalam waktu singkat.
Tujuannya sangat jelas. Bursa ingin memberikan waktu berpikir bagi para investor sebelum mengambil keputusan.
“Untuk mempertimbangkan secara matang berdasarkan informasi yang ada dalam setiap pengambilan keputusan investasinya di saham RATU,” tambah keterangan otoritas bursa.
Harga Saham
Sebelum digembok bursa, pergerakan harga kedua saham ini memang sangat liar. Saham MORA misalnya. Harga sahamnya melonjak pada perdagangan Jumat, 14 November 2025. Saham MORA ditutup di level Rp6.075 per saham. Angka ini naik Rp1.000 atau 19,70% dibanding penutupan sebelumnya di Rp5.075 pada 13 November 2025.
Perdagangan hari itu cukup aktif. Volume transaksi mencapai 6.923.300 saham. Harga pembukaan tercatat Rp6.000. Harga tertinggi menyentuh Rp6.075. Harga terendah berada di Rp5.450.
Saham MORA juga menembus rekor tertinggi tahun berjalan di Rp6.075. Harga terendah tahun berjalan tercatat di Rp362 pada 17 Februari 2025. Rentang pergerakan 52 minggu berada di Rp290 sampai Rp6.075. Kapitalisasi pasarnya mencapai Rp143,65 triliun.
Kondisi serupa terjadi pada saham RATU. Pada penutupan perdagangan terakhir (27/11/2025), harga saham RATU, melesat ke level Rp12.125.
Terjadi kenaikan sebesar Rp725 atau 6,36% dalam sehari. Jika dilihat sepanjang tahun berjalan, harga terendah RATU sempat menyentuh Rp1.435 pada 8 Januari 2025. Kini kapitalisasi pasarnya mencapai Rp32,92 triliun dengan volume perdagangan 56,9 juta saham.
