back to top

Dolar AS Tersungkur, Euro dan Poundsterling Melesat Usai Data Tenaga Kerja AS Dirilis

STOCKWATCH.ID (WASHINGTON) – Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) tertekan pada akhir perdagangan Rabu (3/9/2025) waktu setempat atau Kamis pagi (4/9/2025) WIB. Penurunan ini terjadi setelah data tenaga kerja menunjukkan pelemahan permintaan pekerja. Kondisi ini membuat pasar semakin yakin Federal Reserve akan memangkas suku bunga.

Mengutip CNBC International, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan jumlah lowongan kerja turun menjadi 7,181 juta pada Juli. Angka ini lebih rendah dari perkiraan ekonom yang disurvei Reuters sebesar 7,378 juta.

Eugene Epstein, Head of Structuring for North America di Moneycorp New Jersey, menilai tren pelemahan dolar masih bisa berlanjut. “Antara sikap dovish Powell di Jackson Hole soal pasar tenaga kerja, data non-farm payrolls yang sebelumnya lemah, ditambah JOLTS hari ini juga lemah, dan jika data tenaga kerja Jumat kembali lemah, ini akan menjadi dinamika dovish besar,” ujarnya. Ia menambahkan, “Sangat sulit melihat ada opsi lain, apalagi dengan situasi politik The Fed saat ini bersama pemerintahan AS.”

Dolar sempat menguat di awal perdagangan, tapi kemudian kehilangan tenaga setelah data dirilis. Greenback turun 0,2% ke posisi 148,04 per yen Jepang dan melemah 0,11% ke level 0,803 terhadap franc Swiss.

Euro kian perkasa terhadap dolar dengan kenaikan 0,34% ke level US$1,1672. Epstein menilai pergerakan ini wajar. “Saya pikir ini hanya gabungan faktor yang secara kebetulan membuat sebagian risiko diambil dari meja, tapi pada akhirnya posisi kita sekarang tidak jauh berbeda dengan beberapa pekan terakhir,” katanya.

Indeks dolar, yang mengukur kinerja greenback terhadap sekeranjang mata uang utama termasuk yen dan euro, turun 0,36% ke 98,047. Poundsterling Inggris juga menguat 0,38% ke US$1,3442 setelah imbal hasil obligasi pemerintah melonjak ke level tertinggi sejak 1998.

Di pasar obligasi AS, imbal hasil turun setelah data tenaga kerja keluar. Yield obligasi 2 tahun melemah 4,6 basis poin ke 3,613%, sementara yield acuan 10 tahun turun 5,6 basis poin ke 4,221%. “Saya pikir semua orang berusaha menjaga posisi menjelang rilis data tenaga kerja Jumat nanti. Fokus utama sekarang adalah pasar tenaga kerja,” ujar Epstein.

Di Asia, yen tertekan setelah yield obligasi pemerintah Jepang tenor 30 tahun menyentuh rekor tertinggi. Ketidakpastian politik juga ikut menekan pasar setelah Sekretaris Jenderal Partai yang berkuasa, Hiroshi Moriyama, menyatakan akan mundur.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Laba Bank Mega (MEGA) Capai Rp3,36 Triliun pada 2025, Tumbuh 27,88%

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - PT Bank Mega Tbk (MEGA) membukukan laba...

Penjualan Anjlok 61,76%, Panca Mitra Multiperdana (PMMP) Rugi US$122 Juta pada 2025

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Kinerja keuangan PT Panca Mitra Multiperdana Tbk...

Meski Penjualan Naik, Fajar Surya Wisesa (FASW) Rugi Rp1,13 Triliun pada 2025, Ini Penyebabnya

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Penjualan bersih emiten produsen kertas, yakni PT...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru