STOCKWATCH.ID (NEWYORK) – Harga minyak mentah Amerika Serikat nyaris tak bergerak pada penutupan perdagangan Senin (14/4/2025) waktu setempat atau Selasa pagi (15/4/2025) WIB. Ini terjadi setelah OPEC memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan akibat kebijakan tarif Presiden AS, Donald Trump.
Mengutip CNBC International, harga minyak mentah berjangka Brent menguat 12 sen ke posisi US$64,88 per barel, di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) hanya naik tipis 3 sen dan ditutup di level US$61,53 per barel, di New York Mercantile Exchange.
Dalam laporan bulanannya, OPEC memperkirakan permintaan minyak global akan tumbuh sebesar 1,3 juta barel per hari untuk tahun ini dan tahun depan. Angka itu turun sekitar 150.000 barel per hari dibandingkan proyeksi sebelumnya.
Kebijakan tarif yang diterapkan Trump terhadap China disebut menjadi salah satu penyebab utama koreksi proyeksi tersebut. Presiden AS itu telah memberlakukan tarif sebesar 145% terhadap produk China.
Namun, sempat ada dorongan kenaikan harga hampir 2% di awal sesi perdagangan. Hal ini dipicu oleh keputusan Trump untuk mengecualikan sejumlah produk teknologi seperti smartphone dari daftar tarif.
Pasar juga mendapat angin segar dari pernyataan Menteri Energi AS, Chris Wright. Ia mengatakan Trump bisa saja menghentikan ekspor minyak Iran jika tidak ada kesepakatan soal program nuklir negara itu.
“Ini pukulan ganda buat pasar minyak saat ini,” kata Helima Croft, Kepala Strategi Komoditas Global di RBC Capital Markets, kepada CNBC dalam program “The Exchange”.
Tekanan tambahan juga datang dari rencana OPEC+ yang akan mempercepat peningkatan produksi mulai Mei mendatang.
Sejak 2 April lalu—saat Trump mengumumkan rencana tarif besar-besaran—harga minyak WTI telah turun lebih dari 14%. Minyak Brent juga merosot lebih dari 13% dalam periode yang sama.
Goldman Sachs memproyeksikan harga rata-rata minyak WTI akan berada di kisaran US$59 per barel hingga akhir tahun ini. Sementara Brent diperkirakan bertahan di sekitar US$63 per barel, menurut catatan yang dirilis bank tersebut pada Minggu.
