Kisah Jatuh Bangun Bos Muda Realfood: Dulu Sempat Rugi, Sekarang Sukses Bawa RLCO IPO dan Siap Mendunia
STOCKWATCH.ID (JAKARTA) โ Direktur Utama PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO), Edwin Pranata, kini bisa bernapas lega. Perusahaan yang dipimpinnya resmi mencatatkan saham perdana (IPO) di Bursa Efek...
STOCKWATCH.ID (JAKARTA) โ Direktur Utama PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO), Edwin Pranata, kini bisa bernapas lega. Perusahaan yang dipimpinnya resmi mencatatkan saham perdana (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 8 Desember 2025. Kesuksesan ini menjadi kado manis setelah perjalanan panjang membangun bisnis yang penuh lika-liku. Edwin mengaku kondisi keuangan perusahaan sempat "berdarah-darah" di masa awal perintisannya.
Kisah sukses ini tidak diraih secara instan. Edwin memulai bisnis pengolahan sarang burung walet dengan tantangan berat pada tahun 2016. Kala itu, penerimaan pasar terhadap produknya sangat minim. Masyarakat belum terlalu peduli pada isu kesehatan. Harga produk juga dianggap cukup tinggi oleh konsumen.
"Penjualannya di awal sangat sedikit, mungkin hanya beberapa botol. Kondisi keuangan perusahaan jelas bleeding (berdarah-darah) dan menyebabkan kerugian, pasti susah di awal-awal," ungkap Edwin dalam wawancara eksklusif dengan stockwatch.id, di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Meski merugi, Edwin menolak menyerah. Ia terinspirasi oleh sejarah merek minuman soda global yang juga mengalami kesulitan penjualan di tahun-tahun pertama. Keyakinan terhadap kualitas produk menjadi bahan bakar utamanya untuk bertahan.
"Meskipun merugi, saya punya motivasi melihat filosofi cerita Coca-Cola yang katanya di tahun-tahun awal cuma terjual sedikit. Yang penting kita bisa bertahan, karena kita percaya produk ini bagus, tinggal menunggu waktu yang tepat untuk diterima," tambahnya.
Titik terang mulai terlihat pada tahun 2019. Transformasi digital dan pemanfaatan media sosial mulai mendongkrak popularitas merek Realfood. Momentum besar datang saat pandemi COVID-19 melanda. Kesadaran masyarakat akan kesehatan meningkat pesat.
Bisnis ini sebenarnya bermula dari pengalaman pribadi Edwin saat kuliah di Amerika Serikat pada 2011. Ia jatuh sakit dan mencoba mengonsumsi sarang burung walet. Rasa penasaran membawanya berguru pada seorang profesor peneliti. Sang profesor memiliki formula khusus yang terbukti membantu ibunya bertahan hidup dari kanker stadium 4.
- Belanja Harian di Indomaret Kini Bisa Pakai Home Credit BayarNanti
- Bursa Asia-Pasifik Bervariasi, Nikkei Pimpin Penguatan di Tengah Kenaikan Harga...
- Dividen Interim INPP Rp4,5 per Saham, Catat Jadwal Cum Dividen
- IHSG Anjlok 1,53% ke 6.267,88, Sebanyak 542 Saham Melemah
- Softbank Ventura Indonesia Tambah Saham NANO, Kepemilikan Tembus 10,01%
- Jejak Gemilang Perry Warjiyo, dari Staf hingga Dua Periode Memimpin Bank Indones...
- Nakhoda Baru ASII: Rudy Siap Bawa Astra International Makin Terbang Tinggi
- Eksodus Petinggi Pasar Modal: Jejak Panjang Karier Iman, Mahendra, Inarno, dan M...
- Belanja Harian di Indomaret Kini Bisa Pakai Home Credit BayarNanti
- Bursa Asia-Pasifik Bervariasi, Nikkei Pimpin Penguatan di Tengah Kenaikan Harga...
- Asuransi Bintang (ASBI) Ungkap Dugaan Penggelapan Dana dan Investasi
- Jelang Rilis Data Inflasi AS, Harga Emas Dunia Kembali Bergerak Menguat
- Saham BNBR Kena Notasi Khusus G dari BEI, Ini Tanggapan OJK
- Profil Destry Damayanti, Kandidat Tunggal Gubernur BI Pengganti Perry Warjiyo
- Harga Minyak Dunia Melonjak 5%, Imbas Ketidakpastian Negosiasi AS-Iran