STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Eskalasi konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak mentah dunia. PT Avia Avian Tbk (AVIA) terus memantau dampak krisis geopolitik ini terhadap ketersediaan bahan baku petrokimia. Manajemen memastikan operasional pabrik masih berjalan normal hingga saat ini. Target bisnis perusahaan sepanjang tahun ini juga tidak berubah.
Perusahaan cat ini memiliki fasilitas integrasi ke belakang (backward integration). Fasilitas ini memungkinkan AVIA memproduksi bahan baku resin secara mandiri. Ketahanan stok bahan baku (raw material days) perusahaan masih sangat mencukupi untuk menghadapi gejolak rantai pasok dalam jangka pendek.
“So far kita aman, karena kita masih 2 bulan raw material days kita,” kata Andreas Timothy Hadikrisno, Head of Investor Relations AVIA, di Jakarta, Rabu (4/3/2026).
Kenaikan harga minyak mentah dunia akibat perang berpotensi mengerek biaya produksi. AVIA siap menaikkan harga jual produk ke konsumen sebagai langkah antisipasi terburuk. Langkah serupa pernah diterapkan saat harga minyak mentah menembus USD 100 hingga USD 110 per barel pada era pandemi lalu. Tahun lalu perseroan juga terpaksa menaikkan harga dua kali akibat pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh Rp16.800 per USD.
“Kalau harga naik ya sudah, pass on ke konsumen, naikin harga,” tambah Andreas.
Manajemen justru lebih mengkhawatirkan risiko kelangkaan pasokan petrokimia ketimbang sekadar lonjakan harga beli. Hilangnya bahan baku di pasaran akibat kendala pemasok lokal akan menghentikan proses produksi secara total. AVIA menyiapkan skenario impor sebagai jalan keluar utama jika krisis pasokan benar-benar terjadi.
“Kalau sampai raw material-nya langka gitu, itu yang celaka sebenarnya,” ungkapnya.
Di tengah ketidakpastian global, AVIA tetap optimistis mematok target pertumbuhan kinerja positif. Target pertumbuhan pendapatan dipatok pada kisaran 6% hingga 10% pada tahun ini. Volume penjualan juga ditargetkan naik sekitar 4% hingga 8%.
Perusahaan menyiapkan alokasi belanja modal sekitar 5% hingga 6% dari total pendapatan. Dana ini dipakai untuk perbaikan pabrik lama, peningkatan sistem IT, dan penambahan armada distribusi. Belanja modal ekspansi juga dicairkan untuk merampungkan pabrik baru di Cirebon.
Pabrik Cirebon dijadwalkan masuk tahap uji coba (commissioning) pada bulan Juni mendatang. Proyek ini memang sempat tertunda dari target awal karena kendala perizinan non-teknis. Selain merampungkan ekspansi pabrik, AVIA bersiap meluncurkan minimal 10 produk baru tahun ini.
Deretan produk baru tersebut rencananya mulai diluncurkan ke pasar pada kuartal dua dan kuartal tiga. Fokus inovasi perusahaan tetap menyasar empat segmen utama. Keempat segmen andalan itu meliputi perawatan kayu, kayu dan logam, dinding, serta pelapis anti bocor.
