STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak mentah dunia kembali melemah pada perdagangan Selasa (30/9/2025) waktu setempat atau Rabu pagi (1/10/2025) WIB. Pasar dibayangi rencana penambahan produksi OPEC+ dan kembalinya ekspor minyak dari wilayah Kurdistan Irak lewat Turki.
Mengutip CNBC International, kontrak berjangka Brent untuk pengiriman November, yang berakhir Selasa, turun 95 sen atau 1,4% menjadi US$67,02 per barel, di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah US$1,08 atau 1,7% mencapai US$62,37 per barel, di New York Mercantile Exchange.
Penurunan ini memperpanjang pelemahan sehari sebelumnya ketika Brent dan WTI sama-sama merosot lebih dari 3%. Itu menjadi penurunan harian terbesar sejak 1 Agustus.
Analis PVM, Tamas Varga, menjelaskan tekanan jual semakin kuat setelah ada sinyal dari OPEC+ yang akan menaikkan produksi. “Tekanan jual semakin intens setelah harga turun akibat dimulainya kembali ekspor minyak dari wilayah Kurdistan Irak melalui Turki,” kata Varga.
OPEC+ dijadwalkan menggelar pertemuan pada Minggu. Tiga sumber yang mengetahui agenda itu menyebut kelompok produsen minyak tersebut kemungkinan akan menyetujui tambahan produksi minimal 137.000 barel per hari.
Analis Marex, Ed Meir, menilai pasar tidak menyukai langkah ini. “Meskipun (OPEC+) tetap di bawah kuota mereka, pasar masih tidak suka dengan kenyataan lebih banyak minyak masuk,” ucapnya.
Ekspor minyak Kurdistan sendiri sudah kembali sejak Sabtu lalu. Minyak mentah mengalir lewat pipa ke Turki untuk pertama kali dalam 2,5 tahun setelah tercapai kesepakatan sementara yang mengakhiri kebuntuan, menurut Kementerian Minyak Irak.
Pasar tetap berhati-hati dalam beberapa pekan terakhir. Investor menimbang risiko pasokan yang muncul akibat serangan drone Ukraina ke kilang Rusia dengan ancaman surplus produksi dan lemahnya permintaan global.
Dari sisi geopolitik, Presiden AS Donald Trump mendapat dukungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk proposal perdamaian Gaza yang didukung Washington. Namun sikap Hamas belum jelas.
Varga menambahkan, “dalam skenario ideal, lalu lintas kapal di Terusan Suez akan kembali normal setelah ada kesepakatan damai Gaza, yang akan menghapus sebagian besar premi risiko geopolitik.”
Sentimen negatif juga datang dari potensi penutupan pemerintahan AS. Analis ANZ menyebut kondisi ini bisa menekan permintaan minyak. “Risiko shutdown pemerintah AS meningkatkan kekhawatiran soal permintaan,” tulis ANZ dalam catatan riset.
