STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia bergerak sedikit melemah pada akhir perdagangan Selasa (10/2/2026) waktu setempat atau Rabu pagi (11/2/2026) WIB. Para pelaku pasar memilih bersikap hati-hati sambil menunggu arah kebijakan terkait hubungan diplomasi Amerika Serikat (AS) dan Iran. Investor juga mencermati upaya penghentian perang Rusia di Ukraina serta rilis data ekonomi AS.
Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent turun 24 sen atau 0,35%. Minyak acuan global ini ditutup pada level 68,80 USD per barel di London ICE Futures Exchange.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) jatuh 40 sen atau 0,62%. Minyak WTI berakhir pada posisi 63,96 USD per barel di New York Mercantile Exchange.
Analis dari firma konsultan energi Gelber & Associates memberikan pandangannya mengenai kondisi pasar saat ini. Ketidakpastian arah pasar membuat para pedagang menahan diri.
“Pedagang ragu untuk menekan ke arah mana pun sampai ada sinyal yang lebih jelas dari diplomasi, rilis inventaris berikutnya, atau konfirmasi apa pun terkait aliran pasokan yang terpengaruh secara material daripada sekadar terancam,” tulis analis Gelber & Associates dalam sebuah catatan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan pembicaraan nuklir dengan AS memberikan kesempatan bagi Teheran untuk mengukur keseriusan Washington. Hasil pembicaraan tersebut menunjukkan konsensus yang cukup untuk melanjutkan jalur diplomasi.
Pekan lalu, diplomat AS dan Iran telah mengadakan pembicaraan melalui mediator di Oman. Langkah ini merupakan upaya menghidupkan kembali diplomasi. Sebelumnya, ketegangan sempat meningkat setelah Presiden Donald Trump menempatkan armada angkatan laut di wilayah tersebut.
Tamas Varga, analis minyak di pialang PVM, turut mengomentari situasi geopolitik ini. Menurutnya, fokus utama pasar tetap tertuju pada hubungan kedua negara tersebut.
“Pasar masih fokus pada ketegangan antara Iran dan AS,” ujar Tamas Varga. “Tetapi kecuali ada tanda-tanda nyata gangguan pasokan, harga kemungkinan besar akan mulai turun.”
Strait of Hormuz menjadi titik krusial karena sekitar seperlima konsumsi minyak global melewati jalur tersebut. Iran bersama anggota OPEC lainnya seperti Arab Saudi, UEA, Kuwait, dan Irak mengekspor sebagian besar minyak mentah mereka melalui selat ini. Data EIA menunjukkan Iran merupakan produsen minyak mentah terbesar ketiga di OPEC pada tahun 2025.
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh perkembangan di Eropa. Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, berencana mengusulkan daftar konsesi yang harus dituntut dari Rusia untuk mengakhiri perang di Ukraina. Langkah ini bertujuan menekan pendapatan Rusia sebagai produsen minyak terbesar ketiga di dunia.
Dari sisi permintaan, Indian Oil Corp dilaporkan membeli enam juta barel minyak mentah dari Afrika Barat dan Timur Tengah. India mulai menjauhi minyak Rusia demi mengejar kesepakatan perdagangan dengan Washington.
Kabar positif datang dari Venezuela. Perluasan lisensi AS diperkirakan mampu memulihkan produksi minyak negara anggota OPEC tersebut pada pertengahan 2026. Produksi diharapkan kembali ke level sebelum adanya blokade angkatan laut AS pada Desember lalu.
Kondisi ekonomi AS turut memberikan tekanan pada harga minyak. Penjualan ritel AS secara mengejutkan tidak berubah pada bulan Desember. Rumah tangga mulai mengurangi pengeluaran untuk kendaraan bermotor dan barang-barang mahal lainnya.
Kondisi ini menandakan pertumbuhan ekonomi dan belanja konsumen mungkin melambat pada awal tahun baru. Investor kini menantikan data tenaga kerja non-pertanian Januari dan data inflasi untuk memprediksi arah suku bunga Federal Reserve.
Presiden Trump dilaporkan terus menekan The Fed agar menurunkan suku bunga. Penurunan bunga biasanya memicu pertumbuhan ekonomi dan permintaan energi, namun berisiko meningkatkan inflasi.
Saat ini, pasar sedang menunggu data stok minyak mingguan dari American Petroleum Institute (API) dan EIA. Analis memperkirakan stok minyak mentah AS naik 0,1 juta barel pada pekan lalu. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan kenaikan 4,1 juta barel pada periode yang sama tahun lalu.
