Pasar Saham Volatile Pasca Reshuffle Kabinet, Instrumen Ini Bisa Jadi Pilihan Stabilitas
STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Presiden Prabowo Subianto melakukan reshuffle kabinet pada Senin (8/9). Lima menteri diganti, dan satu kementerian baru dibentuk. Perubahan paling mencolok terjadi pada posi...
Menurut Stefanus Dennis Winarto, Chief Investment Officer PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur), volatilitas jangka pendek wajar terjadi saat transisi kabinet. Investor masih mencermati arah kebijakan fiskal. “Reshuffle ini menjadi fase penting bagi kredibilitas fiskal Indonesia. Komitmen menjaga defisit di bawah 3% memberi sinyal positif jangka pendek, sementara proyeksi ambisius untuk pertumbuhan 8% akan sangat bergantung pada efektivitas pelaksanaan kebijakan di lapangan,” jelas Stefanus.
Ia menambahkan, kebijakan penempatan dana Rp200 triliun ke perbankan perlu dicermati lebih lanjut. “Langkah ini berpotensi memperkuat likuiditas, tetapi efektivitasnya tetap bergantung pada seberapa besar bank bersedia menyalurkan kredit produktif. Jika diarahkan secara berlebihan atau tidak selektif, risiko kualitas aset perbankan bisa meningkat dan menekan kinerja sektor keuangan, sementara dampaknya terhadap PDB akan tetap terbatas,” ujar Stefanus.
Instrumen Defensif Jadi Andalan di Tengah Fluktuasi Pasar
Di tengah ketidakpastian pasar, pemilihan instrumen investasi yang selektif semakin penting. Stefanus menekankan investor perlu menempatkan sebagian portofolio pada instrumen yang lebih defensif. “Pasar saham berpotensi bergerak fluktuatif selama masa transisi kebijakan,” ujarnya.
Kenaikan yield SBN 10 tahun ke kisaran 6,4% juga menjadi sinyal kehati-hatian bagi pelaku pasar. Stefanus menilai level ini menunjukkan investor global masih mengevaluasi arah kebijakan fiskal baru di bawah Purbaya. “Yield yang sudah bergerak naik adalah warning sign bahwa pasar masih menunggu kejelasan arah kebijakan fiskal dan moneter Indonesia. Dalam kondisi seperti ini, belum tepat untuk investor membuat keputusan investasi yang terlalu agresif. Instrumen seperti reksa dana pendapatan tetap dan reksa dana campuran dengan eksposur besar ke obligasi menjadi pilihan yang tepat untuk menjaga stabilitas portofolio,” jelasnya.
- OJK Ungkap Transaksi Aset Kripto Juni 2026 Naik 24,20% Jadi Rp28,58 Triliun, Aku...
- OJK Ungkap Kredit Perbankan Capai Rp9.081 Triliun, Pengawasan Judi Online Makin...
- OJK Ungkap Kinerja Pasar Modal Juli 2026, IHSG Menguat 10,51%, Jumlah Investor T...
- Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Tetap Solid, Inflasi Jadi Sorotan
- Indonet Suntik Modal Rp161 Miliar ke Anak Usaha DGE, Dananya Untuk Ini
- OJK Ungkap Transaksi Aset Kripto Juni 2026 Naik 24,20% Jadi Rp28,58 Triliun, Aku...
- OJK Ungkap Kredit Perbankan Capai Rp9.081 Triliun, Pengawasan Judi Online Makin...
- OJK Ungkap Kinerja Pasar Modal Juli 2026, IHSG Menguat 10,51%, Jumlah Investor T...
- MK Kabulkan Uji Materi UU APBN, Anggaran MBG Harus Dipisahkan dari Dana Pendidik...
- MK Sidangkan Gugatan Patriot Bond, Investor Kebal Pidana Dipersoalkan
- Harga Emas Dunia Melandai, Investor Pantau Risiko Inflasi dan Timur Tengah
- Menkeu Purbaya: Ekonomi RI Triwulan II 2026 Diprakirakan Tetap Tumbuh Kuat, Ini...
- Kabar Duka, Komisaris Independen BRMS Kanaka Puradiredja Meninggal Dunia
- Diplomasi Trump ke Iran Bikin Harga Minyak Anjlok 4,5%, Bursa Saham Eropa Parkir...
- IHSG Berpeluang Koreksi Jangka Pendek, Intip 6 Saham Pilihan BNI Sekuritas Hari...