Dilirk 16 Investor Asing! PJAA Siapkan Mega Proyek Rp6 Triliun Lewat Skema Land Sharing

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) berada di persimpangan jalan besar. Pengelola kawasan wisata ikonik di Jakarta Utara ini memutuskan melakukan transformasi total. Langkah ini diambil guna menjawab perubahan perilaku pengunjung yang kini mengutamakan pengalaman ketimbang sekadar destinasi.

Direktur Utama PJAA yang baru saja terpilih, Syahmudrian Lubis, menegaskan pentingnya langkah berani ini. Ancol tidak ingin hanya sekadar bertahan pada kondisi saat ini. Perseroan memilih beralih menuju tahap transformasi berikutnya.

“Visitor behavior itu sesungguhnya sudah berubah. Mereka itu tidak lagi mencari untuk destinasi wisata, tapi yang mereka cari adalah experience, connection, dan value,” ujar Syahmudrian dalam keterangan pers usai RUPST Perseroan di Kawasan Ancol, Jakarta, Selasa (14/4/2026).

Ada empat pilar utama yang diusung dalam transformasi ini. Pertama, peningkatan nilai bagi pengunjung. Kedua, optimalisasi aset dan ekosistem agar tidak hanya terpaku pada kegiatan operasional rutin.

Ketiga, penggunaan data sebagai basis pengambilan keputusan. Ke depan, Ancol tidak lagi mengandalkan intuisi dalam menggelar kegiatan. Keempat, menjalin kemitraan strategis dengan mitra bereputasi baik di tingkat nasional maupun global.

Sinergi empat poin tersebut diharapkan mampu menciptakan ekosistem baru. Syahmudrian memimpikan Ancol masa depan yang relevan bagi para pelancong.

“Ancol yang kita idamkan menjadi suatu experience-driven lifestyle ecosystem yang terintegrasi,” ucapnya optimis.

Optimalisasi Aset dan Pembersihan Pantai

Ancol saat ini mengelola lahan seluas 553 hektar. Namun, pemanfaatan lahan untuk wahana rekreasi dirasa masih sangat minim. Banyak titik potensial yang belum tergarap maksimal.

Beberapa area seperti bekas lahan Ice, Grand Prix, hingga mal ABC masuk dalam radar penataan ulang. Manajemen berencana memberikan sentuhan transformasi di titik-titik tersebut.

Fokus pertama adalah menghadirkan pantai yang bersih dan nyaman. Syahmudrian ingin pengunjung bisa menikmati air pantai sesuai harapan mereka. Area ini diharapkan menjadi tempat bermain yang layak bagi anak-anak hingga cucu para pengunjung.

Selain itu, Ancol tengah menangani pekerjaan rumah terkait aset-aset yang status kepemilikannya sempat tidak jelas. Dalam dua tahun ke depan, perusahaan akan mendorong agar aset tersebut sepenuhnya menjadi milik Pembangunan Jaya Ancol.

Aktivasi Hiburan Malam dan Beach Club

Sisi gaya hidup juga menjadi perhatian serius. Ancol berencana menghidupkan kembali suasana hiburan malam (night entertainment scene). Saat ini, aktivitas di Ancol cenderung berakhir pada pukul 21.00 WIB.

Guna mencapai tujuan tersebut, Ancol akan membangun sejumlah beach club. Salah satu proyek terdekat berlokasi di area bekas Segara. Kerja sama ini menggandeng mitra lokal yang berpengalaman di industri tersebut.

Kawasan ini akan mengusung konsep gaya hidup baru. Fasilitas yang tersedia mencakup area kebugaran (well-being), tempat berkumpul, hingga lapangan olahraga padel. Konsep ini menggabungkan aktivitas santai di tepi laut dengan interaksi komunitas.

“Ini ada suatu pengalaman baru yang enggak bisa dimiliki oleh apa namanya orang-orang komunitas lainnya,” tutur Syahmudrian.

Proyek Reklamasi Rp6 Triliun

Agenda paling ambisius adalah proyek reklamasi pantai barat di wilayah Marina. Lahan seluas 65 hektar akan dikembangkan untuk kebutuhan bisnis dan kepentingan umum. Kawasan ini nantinya juga menjadi rumah baru bagi dermaga kapal-kapal pesiar.

Proyek raksasa ini membutuhkan pendanaan sekitar Rp5 triliun hingga Rp6 triliun. Menariknya, Ancol tidak akan menggunakan belanja modal (CAPEX) perusahaan sendiri. Strategi yang digunakan adalah kemitraan strategis dengan sistem pembagian lahan (land sharing).

Saat ini, 16 perusahaan asing dari Eropa, China, dan Korea menyatakan minat besar. Mereka akan bersaing melalui mekanisme beauty contest. Investor yang mampu memberikan penawaran terbaik bagi Ancol akan keluar sebagai pemenang.

“Land-nya kita sharing gitu loh. Ini menjadi suatu kita punya nuansa baru bahwasanya oh ternyata ada mekanisme untuk partnership yang bisa menguntungkan juga buat Ancolnya,” jelas Syahmudrian.

Dalam skema ini, Ancol diperkirakan memiliki sekitar 45% lahan, sementara 55% milik investor. Namun, angka ini masih sangat dinamis tergantung hasil negosiasi akhir.

Target Pendapatan Naik 50%

Seluruh langkah transformasi ini diproyeksikan memberikan dampak signifikan terhadap laporan keuangan. Saat ini, rata-rata pendapatan tahunan Ancol berada di kisaran Rp1,1 triliun hingga Rp1,2 triliun.

Syahmudrian menargetkan angka tersebut melonjak dalam dua tahun ke depan. Melalui berbagai kemitraan baru, pendapatan perseroan diharapkan bisa tumbuh setidaknya 50% dari capaian saat ini.

Strategi berbagi risiko melalui kemitraan menjadi kunci di tengah kondisi ekonomi yang menantang. Target ini pun telah dimasukkan ke dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) yang diserahkan ke bursa.

“Harapan kita dengan adanya kerja sama itu 2 tahun ke depan kita bisa me-leverage kita punya kerja sama itu setidaknya bisa naik sekitar 50% daripada itu,” pungkasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Ancol (PJAA) Tebar Dividen Rp41,6 Miliar, Setara Rp26,05 per Saham

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA)...

Dapat Restu RUPS, Royaltama Mulia (RMKO) Gelar Right Issue Rp159,99 Miliar

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk (RMKO) akan...

Mulai Hari Ini, NFC Indonesia (NFCX) Jual Kembali 4.255.200 Lembar Saham Tresuri

STOCKWATCH,ID (JAKARTA) - PT NFC Indonesia Tbk (NFCX) mulai...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru