STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia bergerak lesu pada perdagangan Senin (13/4/2026) waktu setempat atau Selasa pagi (14/4/2026) WIB. Penurunan ini dipicu oleh penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) dan kegagalan perundingan damai antara AS dan Iran di Islamabad. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran inflasi dan mengaburkan prospek pemangkasan suku bunga di masa depan.
Mengutip CNBC International, harga emas spot turun 0,4% menjadi USD 4.728,59 per ons troi. Angka ini merupakan level terendah sejak 7 April lalu. Sementara itu, harga emas berjangka AS merosot 0,7% ke posisi USD 4.752,20 per ons troi.
Indeks dolar AS bergerak naik dan membuat harga logam mulia menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan berita konflik global yang dinamis.
Phillip Streible, Chief Market Strategist di Blue Line Futures, memberikan analisanya. Ia menyebut fokus pasar saat ini tertuju sepenuhnya pada pergerakan harga minyak mentah.
“Ini adalah pasar yang sangat digerakkan oleh berita utama. Semua mata tertuju pada harga minyak mentah karena minyak mentah akan mengarahkan inflasi dan hal itu akan mengarahkan kebijakan Federal Reserve,” ujar Streible.
Militer AS telah memulai blokade terhadap kapal-kapal yang meninggalkan pelabuhan Iran. Langkah ini diambil setelah pembicaraan akhir pekan lalu gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang. Teheran pun mengancam akan membalas pelabuhan-pelabuhan negara tetangga di wilayah Teluk.
Harga minyak dunia pun melonjak di atas level USD 100 per barel. Tingginya harga energi memicu kekhawatiran inflasi global. Situasi ini membatasi ruang bagi bank sentral untuk memangkas suku bunga dalam waktu dekat.
Suku bunga yang tetap tinggi mengurangi daya tarik emas. Sebab, emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil atau bunga.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar kini hanya melihat peluang pemangkasan suku bunga AS sebesar 21% pada akhir tahun. Angka ini turun tajam dibandingkan bulan lalu yang masih berada di posisi 40%.
Paul Wong, Market Strategist di Sprott Asset Management, memberikan pandangan berbeda dalam catatannya. Ia menyoroti peran emas sebagai aset penyelesaian transaksi jika krisis berlanjut.
“Jika Selat Hormuz tetap tertutup, pasar mungkin tidak mengikuti pola risk-off yang umum, karena kekurangan energi dan hambatan pembayaran dapat meningkatkan peran emas sebagai aset penyelesaian lintas batas yang tepercaya saat mata uang dibatasi,” kata Paul Wong.
Paul Wong menambahkan ketidakpastian pasokan minyak akan mendorong permintaan struktural untuk perak. Hal ini didorong oleh percepatan investasi pada teknologi panel surya.
Meski demikian, harga perak spot terpantau turun 2,4% menjadi USD 74,07 per ons troi. Penurunan juga terjadi pada platinum sebesar 1,2% ke posisi USD 2.021,28 per ons troi. Sebaliknya, harga paladium justru menguat 0,4% ke level USD 1.527,45 per ons troi.
