STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham Asia-Pasifik ditutup melemah pada perdagangan Rabu (5/11/2025) waktu setempat. Penurunan ini terjadi setelah kekhawatiran atas valuasi tinggi saham berbasis kecerdasan buatan (AI) memicu aksi jual besar-besaran di kawasan.
Mengutip CNBC International, indeks Nikkei 225 Jepang anjlok 2,5% ke level 50.212,27 usai sempat turun lebih dari 4% dan menembus di bawah level psikologis 50.000. Indeks Topix juga melemah 1,26% menjadi 3.268,29.
Saham SoftBank Group menjadi sorotan setelah jatuh lebih dari 10%. Penurunan ini mengikuti pelemahan saham-saham AI di Amerika Serikat, termasuk Nvidia dan Palantir, yang sebelumnya juga terkoreksi.
Kondisi serupa terjadi di Korea Selatan. Indeks Kospi turun lebih dari 2% ke posisi 4.004,42. Raksasa semikonduktor Samsung Electronics dan SK Hynix masing-masing melemah lebih dari 4% dan 1%. Sementara itu, indeks Kosdaq yang berisi saham berkapitalisasi kecil terperosok 2,66% ke level 901,89.
Nilai tukar won Korea Selatan juga melemah hingga 0,6% terhadap dolar AS, mencapai 1.449,50 per dolar — level terendah sejak April.
Pasar saham Hong Kong cenderung datar dengan indeks Hang Seng berada di level 25.935,41. Sementara CSI 300 Tiongkok daratan justru menguat tipis 0,19% ke 4.627,26. Di Australia, indeks S&P/ASX 200 turun 0,13% ke 8.802.
Tekanan di pasar Asia mengikuti pelemahan di Wall Street semalam. Indeks S&P 500 turun 1,17% ke 6.771,55, Nasdaq merosot 2,04% ke 23.348,64, dan Dow Jones turun 0,53% ke 47.085,24.
Saham Palantir jatuh sekitar 8% meski berhasil melampaui ekspektasi laba kuartal ketiga. Investor tampak khawatir reli besar-besaran saham AI mulai kehilangan tenaga.
Andrew Jackson, Head of Japanese Equity Strategy di Ortus Advisors, mengatakan, “Akhirnya aksi jual besar terjadi setelah reli di hampir semua sektor mulai kehilangan momentum, menyusul komentar dari para CEO Goldman Sachs dan Morgan Stanley yang memperingatkan potensi koreksi pasar.”
Peringatan itu datang setelah kedua pimpinan bank investasi besar tersebut meminta investor bersiap menghadapi kemungkinan penurunan pasar dalam dua tahun mendatang.
Menurut Anthony Saglimbene dari Ameriprise, reli saham AI telah membuat valuasi pasar menjadi terlalu tinggi. “Tanpa adanya koreksi, valuasi saham mulai terlihat sangat berlebihan,” ujarnya kepada CNBC.
