Sabtu, November 29, 2025
29.5 C
Jakarta

Harga Minyak Turun Lebih dari 2%, Pasar Cemas soal Perkembangan Negosiasi AS-Iran

STOCKWATCH.ID (NEWYORK) – Harga minyak mentah dunia turun lebih dari 2% pada penutupan perdagangan Senin (21/4/2025) waktu setempat atau Selasa pagi (22/4/2025) WIB. Penurunan ini terjadi di tengah kabar adanya kemajuan dalam pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran.

Mengutip CNBC International, harga minyak mentah berjangka Brent merosot US$1,70 atau 2,5% menjadi US$66,26 per barel, di London ICE Futures Exchange.

Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun US$1,60 atau 2,47% ke level US$63,08 per barel, di New York Mercantile Exchange.

Kedua jenis minyak mentah tersebut sebelumnya sempat menguat tajam pada perdagangan Kamis lalu. Brent sempat naik 3,2% dan WTI melonjak 3,54% sebelum pasar libur pada Jumat karena perayaan Paskah.

Pasar minyak sempat optimistis, namun sentimen langsung berubah ketika muncul kabar bahwa AS dan Iran setuju untuk mulai menyusun kerangka kesepakatan nuklir.

Menteri Luar Negeri Iran menyampaikan bahwa pembicaraan dengan pihak AS membuahkan “kemajuan yang sangat baik”. Seorang pejabat AS juga menyebut hasil diskusi itu menjanjikan.

Harry Tchilinguirian, Kepala Riset di Onyx Capital Group, mengatakan, “Pembicaraan AS-Iran tampaknya cukup positif, yang membuat pasar mulai mempertimbangkan kemungkinan solusi.”

Menurutnya, jika kesepakatan tercapai, maka pasokan minyak Iran tidak akan lagi tersingkir dari pasar global. Ia juga menambahkan bahwa likuiditas pasar yang lebih rendah karena libur Paskah bisa memperbesar fluktuasi harga.

Sementara itu, analis dari IG, Yeap Jun Rong, menyebut tren jangka pendek harga minyak masih cenderung melemah. Ia menilai pasar sulit menemukan sentimen positif karena masih ada kekhawatiran terhadap prospek permintaan bahan bakar.

“Tren yang lebih luas masih condong ke bawah, karena investor kesulitan melihat prospek cerah di tengah dampak tarif terhadap pertumbuhan global dan pasokan OPEC+ yang terus meningkat,” ujarnya.

Kelompok OPEC+ yang terdiri dari negara-negara pengekspor minyak termasuk Rusia masih berencana menaikkan produksi sebesar 411.000 barel per hari mulai Mei. Namun sebagian kenaikan ini bisa tertahan karena beberapa negara sebelumnya sudah melebihi kuota produksi mereka.

Tekanan pada pasar energi juga muncul karena ketegangan politik di Amerika. Presiden AS, Donald Trump, pekan lalu melontarkan kritik tajam kepada Federal Reserve. Ia menyebut kebijakan bank sentral terlalu hati-hati dan tidak mendukung pertumbuhan.

Kondisi ini turut membuat harga emas naik dan menyebarkan kekhawatiran ke pasar energi. Investor makin cemas terhadap prospek permintaan minyak jika tekanan ekonomi terus berlanjut.

Sebuah survei Reuters pada 17 April menunjukkan bahwa pelaku pasar memperkirakan kebijakan tarif bisa memicu perlambatan besar di ekonomi AS. Peluang resesi dalam 12 bulan ke depan diperkirakan mencapai 50%.

Pelaku pasar kini menanti sejumlah data ekonomi dari AS pekan ini, termasuk rilis indeks manufaktur dan jasa untuk bulan April.

Yeap Jun Rong mengatakan, “Rangkaian rilis PMI pekan ini bisa mempertegas dampak ekonomi dari tarif, dengan kondisi manufaktur dan jasa di berbagai negara besar yang diprediksi melemah.”

Ia juga menambahkan harga minyak akan menghadapi tantangan besar untuk menembus level resistensi di US$70 per barel.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Harga Emas Dunia Tergelincir Saat Libur Thanksgiving, Ternyata Ini Penyebabnya!

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia bergerak turun tipis...

Libur Thanksgiving Bikin Pasar Sepi, Harga Minyak Dunia Naik Tipis Gara-gara Isu Perang

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia bergerak naik pada...

Harga Emas Dunia Menguat Seiring Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga The Fed

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia bergerak naik dan...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer 7 Hari

Berita Terbaru