Kemenko Perekonomian: Impor Pertanian dari AS Rp75,37 Triliun Murni Bisnis Swasta, Bukan Pakai APBN
STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Pemerintah menegaskan komitmen fasilitasi impor produk pertanian senilai USD 4,5 miliar atau sekitar Rp75,38 triliun (asumsi kurs Rp16.750 per USD) merupakan kerja sama busi...
STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Pemerintah menegaskan komitmen fasilitasi impor produk pertanian senilai USD 4,5 miliar atau sekitar Rp75,38 triliun (asumsi kurs Rp16.750 per USD) merupakan kerja sama business-to-business (B2B). Program ini berjalan dalam kerangka Agreement on Reciprocal Trade (ART) Indonesia–AS.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto menyampaikan hal ini dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (1/3/2026). Langkah ini dipastikan bukan beban bagi APBN. Pemerintah hanya bertindak sebagai regulator dan penjaga standar mutu produk. Seluruh keputusan mengenai transaksi serta pembiayaan berada sepenuhnya di tangan sektor swasta.
Amerika Serikat (AS) merupakan mitra dagang strategis sekaligus tujuan ekspor terbesar kedua Indonesia. Pada 2025, ekspor Indonesia ke AS mencapai USD 31,0 miliar atau setara Rp519,25 triliun. Nilai ekspor tersebut menyumbang sekitar 11% dari total ekspor global Indonesia yang mencapai USD 282,9 miliar atau sekitar Rp4.738,57 triliun. Menjaga akses pasar ke Amerika Serikat menjadi langkah yang sangat rasional. Hal ini bertujuan untuk melindungi daya saing produk-produk nasional di kancah internasional.
Kerja sama perdagangan ini juga memiliki peran krusial bagi keberlangsungan industri nasional. Indonesia masih memerlukan impor komoditas tertentu seperti gandum. Bahan baku tersebut sangat dibutuhkan oleh industri makanan olahan yang hasilnya diekspor kembali. Pasokan yang stabil dan harga kompetitif akan melindungi daya saing produk nasional.
Pelaku usaha dalam negeri mendapatkan manfaat berupa kepastian pasokan bahan baku. Mereka bisa memperoleh bahan berkualitas dengan harga yang lebih bersaing. Secara data, porsi impor pertanian dari Amerika Serikat sebenarnya masih relatif kecil dibandingkan total impor nasional.
- Daftar Antrean IPO BEI Terbaru: Dua Perusahaan Skala Besar Bersiap Masuk Bursa
- IHSG Naik 0,64% Pekan Ini, Kapitalisasi Pasar BEI Tembus Rp10.923 Triliun
- BEI Ubah Notasi Khusus Emiten di JATS, Investor Kini Dapat Informasi Lebih Jelas
- BEI Resmi Tetapkan Kriteria Saham Berbasis Hijau (Green Equity Designation)
- Harga Emas Dunia Terkoreksi 2%, Namun Tetap Cetak Kinerja Bulanan Terbaik Sejak...
- BRI Peduli Perkuat Peternak Sapi Perah di Malang, Produksi dan Nilai Tambah Susu...
- Prabowo Resmikan Akad Massal 62.000 KPR Rumah Subsidi dan KUR Perumahan Rp880 Mi...
- BRI Bekali PMI di Taiwan dengan Literasi Keuangan dan Kewirausahaan, Siapkan Usa...
- Daftar Antrean IPO BEI Terbaru: Dua Perusahaan Skala Besar Bersiap Masuk Bursa
- IHSG Naik 0,64% Pekan Ini, Kapitalisasi Pasar BEI Tembus Rp10.923 Triliun
- Daftar Antrean IPO BEI Terbaru: Dua Perusahaan Skala Besar Bersiap Masuk Bursa
- BEI Ubah Notasi Khusus Emiten di JATS, Investor Kini Dapat Informasi Lebih Jelas
- Bursa Asia Ditutup Menguat, KOSPI Catat Kenaikan Harian Terbesar Sepanjang Sejar...
- IHSG Naik 0,64% Pekan Ini, Kapitalisasi Pasar BEI Tembus Rp10.923 Triliun
- Bursa Saham Eropa Bervariasi, Tersengat Sentimen AI dan Inflasi Zona Euro