Pemerintah Suntik Modal Jumbo Garuda Indonesia Rp23,6 Triliun, Demi Hindari Delisting 2026?
STOCKWATCH.ID (JAKARTA) โ PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) akan menambah modal tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) atau private placement senilai Rp23,67 triliun. Dalam aksi korp...
STOCKWATCH.ID (JAKARTA) โ PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) akan menambah modal tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) atau private placement senilai Rp23,67 triliun. Dalam aksi korporasi ini, Garuda Indonesia bakal menerbitkan 315,61 miliar saham seri D dengan nilai nominal Rp75 per lembar. Harga pelaksanaan merujuk pada hasil penilaian Kantor Jasa Penilai Publik Areyanti & Rekan.
Penambahan modal dilakukan oleh PT Danantara Asset Management (Persero) atau DAM, pemegang saham utama Garuda. Adapun tujuan private placement ini adalah mendukung restrukturisasi dan memperbaiki struktur keuangan serta memperkuat modal kerja Perseroan.
โPMTHMETD dilakukan melalui setoran modal tunai dan konversi pinjaman pemegang saham menjadi saham baru,โ ujar Direktur Utama Garuda Indonesia, Dony Oskariaย dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, dikutip Selasa (11/11/2025).
Langkah private placement ini menjadi bagian dari strategi perbaikan posisi keuangan Garuda Indonesia setelah restrukturisasi penyelamatan pada 2022. Saat itu, utang Perseroan turun dari US$ 10 miliar pada Desember 2021 menjadi US$ 5 miliar pada Desember 2022. Ekuitas perusahaan meningkat dari negatif US$ 5,3 miliar menjadi negatif US$ 653 juta. Secara konsolidasian, utang turun dari US$ 13,3 miliar menjadi US$ 7,7 miliar, dan ekuitas membaik dari negatif US$ 6,1 miliar menjadi negatif US$ 1,5 miliar.
Perbaikan keuangan masih menghadapi beberapa tantangan. Garuda Indonesia belum membukukan ekuitas positif, sehingga akses pendanaan masih terbatas. Kondisi ini juga menimbulkan risiko delisting pada 30 Juni 2026 jika tidak segera diperbaiki. Selain itu, jumlah armada berkurang karena biaya perawatan dan restorasi, sementara pemulihan pasar pasca pandemi di Asia Pasifik berjalan lebih lambat dibanding Amerika Utara, Latin, dan Timur Tengah.
- Janu Putra Sejahtera Kantongi Rp70 Miliar dari Penjualan Aset ke Grup De Heus
- Laba Bersih MSIN Naik 13,6% Jadi Rp279 Miliar di Semester I 2026
- Tiket Umum Ludes Sejam, BRI Buka Akses Eksklusif Konser 35 Tahun Twilite Orchest...
- TCPI Catat Laba Rp123,4 Miliar, Tumbuh 25% di Semester I 2026
- JELI Klarifikasi Antrean Jual 68 Juta Lot, BEI Bilang Bukan Gangguan Sistem
- Janu Putra Sejahtera Kantongi Rp70 Miliar dari Penjualan Aset ke Grup De Heus
- JELI Klarifikasi Antrean Jual 68 Juta Lot, BEI Bilang Bukan Gangguan Sistem
- Asuransi Maximus (ASMI) Berbalik Boncos! Rugi Rp124,2M pada Semester I-2026
- Laba Bersih MSIN Naik 13,6% Jadi Rp279 Miliar di Semester I 2026
- Tiket Umum Ludes Sejam, BRI Buka Akses Eksklusif Konser 35 Tahun Twilite Orchest...