Duel Sengit Emiten Sarang Walet: RLCO vs NEST, Siapa Lebih Unggul?
STOCKWATCH.ID (JAKARTA) โ Industri pasar modal tanah air kedatangan pemain baru di sektor sarang burung walet. PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada S...
Meski demikian, RLCO memiliki keunggulan tersendiri di segmen hilir. Produk siap konsumsi RLCO merupakan hasil produksi sendiri. Pendapatan downstream RLCO tercatat sekitar Rp 50 miliar. Sementara itu, NEST masih bekerja sama dengan mitra dari China untuk produk hilir.
NEST memiliki mitra strategis raksasa. Perusahaan ini menjadi pemasok utama Xiamen Yan Palace Bird's Nest Industry Co Ltd. Xiamen Yan Palace adalah produsen sarang walet terbesar di China. Penjualan per tahun mitra NEST ini mencapai Rp 5 triliun dengan valuasi senilai HK 3.2 billion. Xiamen Yan Palace juga tercatat sebagai pemegang 5% saham NEST. Kerjasama ini memberikan akses pasar global yang lebih luas dan stabil.
Perbandingan kesehatan keuangan kedua perusahaan juga menjadi sorotan. NEST saat ini tidak memiliki utang berbunga. Perusahaan telah melunasi utang sebesar Rp 22 miliar pada September 2024. Total liabilitas per 30 September 2025 dapat ditekan 61,9% menjadi Rp 44,03 miliar. Ekuitas NEST tercatat sebesar Rp 367,6 miliar. Rasio utang terhadap ekuitas atau Debt to Equity Ratio (DER) NEST hanya 0,12 kali.
Sebaliknya, RLCO mencatatkan tingkat utang yang cukup tinggi. DER RLCO per 31 Mei 2025 mencapai 2,88 kali. Angka ini mencerminkan tingginya tingkat leverage. Total liabilitas RLCO hingga akhir Mei 2025 sebesar Rp 509,25 miliar. Kewajiban ini didominasi oleh utang jangka pendek senilai Rp 477,97 miliar.
Ekuitas RLCO tercatat sebesar Rp 176,52 miliar per 31 Mei 2025. Jumlah saldo laba perusahaan melorot 36,8% secara year-to-date menjadi Rp 21,74 miliar. Posisi kas perusahaan juga mengalami tekanan hebat. Kas dan setara kas RLCO hanya tersisa Rp 4,03 miliar. Angka ini anjlok 87,47% dibandingkan posisi per 31 Desember 2024 yang sebesar Rp 32,16 miliar. Penurunan kas terutama dipengaruhi arus kas bersih untuk aktivitas operasi sebesar Rp 36,97 miliar.
- PEFINDO Turunkan Peringkat ADHI ke idBB, Pemicunya Kupon Obligasi
- BEI Buka Opsi Revisi Target IPO 2026, Ini Respons OJK
- MBMA Siapkan Rp651,68 Miliar untuk Lunasi Sukuk Jatuh Tempo Agustus 2026
- BEI Lanjutkan Suspensi WIKA Hingga Waktu yang Belum Ditentukan, Ini Penyebabnya
- Argo Pantes Raih Kontrak Sewa Gudang Rp48,14 Miliar dari United Chemicals
- PEFINDO Turunkan Peringkat ADHI ke idBB, Pemicunya Kupon Obligasi
- BEI Buka Opsi Revisi Target IPO 2026, Ini Respons OJK
- BEI Lanjutkan Suspensi WIKA Hingga Waktu yang Belum Ditentukan, Ini Penyebabnya
- MBMA Siapkan Rp651,68 Miliar untuk Lunasi Sukuk Jatuh Tempo Agustus 2026
- Argo Pantes Raih Kontrak Sewa Gudang Rp48,14 Miliar dari United Chemicals
- IHSG Berpeluang Koreksi Jangka Pendek, Intip 6 Saham Pilihan BNI Sekuritas Hari...
- OJK: Pasar Modal Indonesia Mulai Masuk Fase Pemulihan di Awal Triwulan III 2026
- Menkeu Purbaya: Ekonomi RI Triwulan II 2026 Diprakirakan Tetap Tumbuh Kuat, Ini...
- Kabar Duka, Komisaris Independen BRMS Kanaka Puradiredja Meninggal Dunia
- Harga Emas Dunia Melandai, Investor Pantau Risiko Inflasi dan Timur Tengah