Harga Emas Dunia Melandai, Investor Pantau Risiko Inflasi dan Timur Tengah
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh perbedaan pendapat di internal The Fed. Tiga pejabat bank sentral menginginkan kenaikan suku bunga pada pertemuan pekan lalu. Mereka menilai penundaan kenaikan biaya pinjaman bisa membuat inflasi tetap di atas target 2%.
John Williams, Presiden Fed New York, ikut memberikan tanggapan. Ia menyatakan kesiapan bank sentral untuk bertindak jika kondisi ekonomi memanas.
"Bank sentral siap menaikkan suku bunga jika tekanan inflasi tidak mereda," kata Williams.
Ketegangan di Timur Tengah sebelumnya sempat memicu lonjakan harga minyak Brent hingga lebih dari 20% bulan lalu. Konflik antara AS dan Iran serta serangan terhadap kapal tanker di Oman menjadi pemicu utamanya.
Harga energi yang tinggi memperkuat dugaan The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Situasi ini menjadi beban bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil atau bunga.
- Indonet Suntik Modal Rp161 Miliar ke Anak Usaha DGE, Dananya Untuk Ini
- OJK Ungkap Poin Penting Aturan Demutualisasi Bursa Efek, Target Berlaku Kuartal...
- Maybank Indonesia (BNII) Resmi Akuisisi 51% Saham Maybank Asset Management, Segi...
- PEFINDO Turunkan Peringkat ADHI ke idBB, Pemicunya Kupon Obligasi
- BEI Buka Opsi Revisi Target IPO 2026, Ini Respons OJK
- Harga Emas Dunia Melandai, Investor Pantau Risiko Inflasi dan Timur Tengah
- Harga Minyak Dunia Anjlok Usai Trump Batalkan Serangan ke Iran
- Stock Futures Wall Street Naik Tipis Usai Dow Jones Cetak Rekor Tertinggi
- Indonet Suntik Modal Rp161 Miliar ke Anak Usaha DGE, Dananya Untuk Ini
- OJK Ungkap Poin Penting Aturan Demutualisasi Bursa Efek, Target Berlaku Kuartal...
- IHSG Berpeluang Koreksi Jangka Pendek, Intip 6 Saham Pilihan BNI Sekuritas Hari...
- Harga Emas Dunia Melandai, Investor Pantau Risiko Inflasi dan Timur Tengah
- Kabar Duka, Komisaris Independen BRMS Kanaka Puradiredja Meninggal Dunia
- Menkeu Purbaya: Ekonomi RI Triwulan II 2026 Diprakirakan Tetap Tumbuh Kuat, Ini...
- OJK: Pasar Modal Indonesia Mulai Masuk Fase Pemulihan di Awal Triwulan III 2026