Harga Emas Dunia Menguat Saat Harga Minyak Anjlok, Investor Pantau Data Tenaga Kerja AS
Harga energi yang tinggi biasanya memperkuat dugaan The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama demi melawan inflasi. Kondisi tersebut sering kali menekan harga emas karena logam mulia merupakan aset yang tidak menghasilkan bunga.
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh pernyataan Presiden Fed New York, John Williams. Pada Senin lalu, Williams mengaku optimistis tekanan inflasi berada di jalur yang tepat untuk mereda secara bertahap. Namun, ia menegaskan bank sentral tidak akan ragu menaikkan suku bunga jika inflasi tidak kunjung turun.
Saat ini, para pelaku pasar memperkirakan adanya peluang sebesar 61% untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan September mendatang. Prediksi ini muncul setelah para petinggi The Fed sempat berbeda pendapat pada pertemuan kebijakan sebelumnya.
Kini, perhatian pasar tertuju pada serangkaian laporan lapangan kerja di AS yang akan dirilis minggu ini. Data tersebut mencakup laporan ketenagakerjaan ADP pada Rabu serta data nonfarm payrolls pada Jumat mendatang.
- Kredit BBNI Tumbuh Agresif 24,4%, Ini Catatan Kiwoom Sekuritas untuk Semester II...
- BPS Catat Ekonomi RI Tumbuh 5,29% di Triwulan II-2026, Ekonom Soroti Tantangan E...
- Ditopang Pendapatan Bunga dan FBI, Laba BNI (BBNI) Capai Rp10,76 Triliun pada Pa...
- Dirut Humpuss Intermoda Setiawan T. Widjojo Mundur, Ini Alasannya
- DIVA Jual 200 Ribu Saham Treasury, Sisa 28,38 Juta Saham
- Wall Street Cetak Rekor, S&P 500 Futures Bergerak Tipis Jelang Data Tenaga Kerja...
- Harga Emas Dunia Menguat Saat Harga Minyak Anjlok, Investor Pantau Data Tenaga K...
- Harga Minyak Dunia Anjlok, Kesepakatan Selat Hormuz Bakal Tercapai?
- BPS Catat Ekonomi RI Tumbuh 5,29% di Triwulan II-2026, Ekonom Soroti Tantangan E...
- Dukung Program 3 Juta Rumah, KPR BTN dan Danantara Sasar Kelompok Disabilitas