Wall Street Kompak Menguat, Nasdaq Cetak Rekor Usai Saham Apple Melejit
STOCKWATCH.ID (NEWYORK) – Wall Street ditutup kompak menguat pada perdagangan hari Jumat (8/8/2025) waktu setempat atau Sabtu pagi (9/8/2025) WIB). Penguatan ini dipimpin oleh sektor teknologi. Mengu...
Pasar saham sempat anjlok pada April setelah Trump mengumumkan paket tarif besar-besaran. Saat itu, S&P 500 masuk ke area koreksi dan mencatat penurunan harian terbesar sejak 2020.
“Reaksi pasar pada pengumuman 2 April menunjukkan bagaimana pandangan pasar terhadap tarif,” ujar Ross Mayfield, analis investasi di Baird.
Menurutnya, investor cenderung percaya pemerintahan tidak akan benar-benar menjalankan rencana tarif yang terlalu agresif. “Ini seperti situasi ayam dan telur. Kita masih berada di tahap akhir untuk melihat arah akhirnya,” lanjut Mayfield.
Ia menambahkan, jika pasar tidak bereaksi karena menunggu perubahan, pemerintah bisa saja menganggap pasar mendukung kebijakan tersebut, bukan menantikan revisi. “Ini memang situasi yang rumit,” katanya.
- Kredit BBNI Tumbuh Agresif 24,4%, Ini Catatan Kiwoom Sekuritas untuk Semester II...
- BPS Catat Ekonomi RI Tumbuh 5,29% di Triwulan II-2026, Ekonom Soroti Tantangan E...
- Ditopang Pendapatan Bunga dan FBI, Laba BNI (BBNI) Capai Rp10,76 Triliun pada Pa...
- Dirut Humpuss Intermoda Setiawan T. Widjojo Mundur, Ini Alasannya
- DIVA Jual 200 Ribu Saham Treasury, Sisa 28,38 Juta Saham
- Wall Street Menguat Tajam: S&P 500 dan Dow Jones Tembus Level Tertinggi Sepanjan...
- Laba Perusahaan Mengkilap, Mayoritas Bursa Saham Eropa Kompak Berakhir di Zona H...
- Mayoritas Bursa Asia Menghijau, Kosdaq Melonjak 5,8% dan Kospi Naik 1,62%
- Kredit BBNI Tumbuh Agresif 24,4%, Ini Catatan Kiwoom Sekuritas untuk Semester II...
- BPS Catat Ekonomi RI Tumbuh 5,29% di Triwulan II-2026, Ekonom Soroti Tantangan E...