back to top

Perbankan Masih Punya Cadangan Kredit Rp2.506 Triliun, BI Optimistis Ekonomi Tumbuh Tinggi

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Bank Indonesia (BI) menilai sistem keuangan Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang kuat dan stabil. Meski ketidakpastian global masih tinggi, ruang penyaluran kredit perbankan tetap terbuka lebar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi.

Hal tersebut terungkap dalam peluncuran buku Kajian Stabilitas Keuangan (KSK) Nomor 46 di Jakarta. Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menjelaskan ketahanan perbankan dan industri keuangan nasional tetap terjaga dengan likuiditas yang memadai.

Hingga Januari 2026, perbankan masih memiliki fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) sebesar Rp2.506,47 triliun. Angka ini setara dengan 22,65% dari total plafon kredit yang tersedia di industri perbankan nasional.

Penyaluran kredit sendiri tumbuh 9,69% secara tahunan (yoy) pada Desember 2025. Performa ini turut menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,11% sepanjang tahun lalu. BI memprakirakan intermediasi pada 2026 tetap solid dalam kisaran 8% hingga 12%.

“Fasilitas pinjaman yang belum digunakan perbankan dapat terus dioptimalkan sebagai pendorong pertumbuhan lebih tinggi,” ujar Destry dalam siaran pers, Jumat (27/2/2026).

Guna mempercepat roda ekonomi, BI mengimbau perbankan terus menyesuaikan special rate. Langkah ini diharapkan mampu mendorong penurunan suku bunga kredit secara lebih cepat di pasar.

Selain itu, BI memperkuat Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk memastikan kecukupan likuiditas perbankan. Hingga minggu pertama Februari 2026, perbankan telah memperoleh insentif mencapai Rp427,5 triliun.

Destry menekankan pentingnya sinergi antarlembaga dalam mendorong pertumbuhan kredit dan penurunan suku bunga. Fokus utama tetap pada sektor-sektor prioritas yang menjadi motor penggerak ekonomi Pemerintah.

“Intermediasi pada 2026 diprakirakan tetap solid, sejalan dengan pertumbuhan kredit Januari 2026 yang mencapai 9,96%,” tegasnya.

Penerbitan KSK 46 ini diharapkan menjadi referensi strategis dan membangun ekspektasi positif bagi dunia usaha. Sinergi dalam kerangka Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menjadi kunci untuk menjaga stabilitas sekaligus memacu akselerasi ekonomi nasional.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Tarif Dagang RI-AS Turun Jadi 15%, Airlangga: Kita Dapat Diskon

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Angin segar berembus bagi eksportir Indonesia....

Modal Tebal! OJK Pastikan Bank RI Siap Hadapi Risiko Perubahan Iklim

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan kondisi...

Ekonomi Hijau Makin Serius! OJK dan Inggris Bikin Tim Khusus Pembiayaan Iklim

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mendorong...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru