Harga Minyak Melejit ke Level Tertinggi 3 Tahun, Pasokan Timur Tengah Terancam

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Harga minyak dunia melonjak tajam dan mencapai level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun pada akhir perdagangan Jumat (27/3/2026) waktu setempat atau Sabtu pagi (28/3/2026) WIB. Lonjakan ini dipicu kekhawatiran serius atas gangguan pasokan dari Timur Tengah.

Ketegangan geopolitik di kawasan tersebut membuat pelaku pasar cemas. Upaya Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang memilih jalur negosiasi dengan Iran belum mampu meredakan kekhawatiran pasar.

Harga minyak kini berada di posisi tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Juli 2022. Investor terus mencermati risiko gangguan pasokan energi global.

Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent naik USD4,56 atau 4,22% menjadi USD112,57 per barel di London ICE Futures Exchange.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak USD5,16 atau 5,46% menjadi USD99,64 per barel di New York Mercantile Exchange. Sepanjang sesi, harga WTI sempat menembus USD100,04 per barel.

Kebijakan Trump memperpanjang tenggat serangan ke infrastruktur energi Iran selama 10 hari belum berdampak signifikan terhadap pasar. Ia memberi waktu hingga 6 April untuk membuka Selat Hormuz yang menjadi jalur vital energi dunia.

Trump menyebut pembicaraan dengan Iran berjalan positif. Namun kondisi di lapangan menunjukkan situasi berbeda.

Dua kapal kontainer milik China Ocean Shipping Company (COSCO) mencoba melintasi Selat Hormuz. Kapal tersebut akhirnya dipaksa berbalik arah. Padahal China dikenal sebagai sekutu Iran.

Peristiwa ini menjadi sinyal kuat masih adanya pembatasan lalu lintas di jalur tersebut. Selat Hormuz merupakan jalur penting distribusi minyak global.

Firma pelacakan kapal MarineTraffic turut menyoroti kondisi ini.“Perkembangan semalam menunjukkan situasi di Selat Hormuz tetap sangat tidak stabil,” tulis MarineTraffic.

Trump juga menyampaikan Iran telah mengizinkan 10 kapal tanker minyak melintas dalam sepekan terakhir. Ia menyebut hal tersebut sebagai “hadiah” bagi Amerika Serikat.

Meski demikian, analis menilai kondisi pasar tetap rapuh. Gangguan pasokan dinilai berpotensi semakin besar.

Chief Oil Analyst Rystad Energy, Paola Rodriguez-Masiu, menilai pasar mulai kehilangan daya tahan terhadap guncangan. “Pasar minyak tidak bereaksi rendah terhadap gangguan di Selat Hormuz; pasar menyerapnya,” ujar Paola.

Ia menjelaskan ketahanan pasar sebelumnya ditopang surplus minyak sebelum konflik serta cadangan yang tersedia. Kondisi tersebut kini mulai berubah.

“Selama hampir empat minggu, pasar telah menunjukkan ketahanan yang luar biasa … Fase itu sekarang berakhir,” kata Paola.

Data Rystad menunjukkan sistem pasokan global bergerak dari kondisi aman menuju rapuh. Penurunan stok minyak selama beberapa pekan terakhir mempersempit ruang untuk menahan gangguan.

Hingga saat ini, sekitar 17,8 juta barel aliran minyak melalui Selat Hormuz telah terganggu. Situasi ini meningkatkan tekanan terhadap harga minyak dunia dalam jangka pendek.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Harga Emas Dunia Melonjak 3%, Ini Pemicunya!

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia melonjak tajam pada...

Hilirisasi Rp239 Triliun Jadi Penopang Kemandirian, Pemerintah Genjot Energi Domestik

STOCKWATCH.ID (BOGOR) - Pemerintah Indonesia menegaskan perkembangan percepatan program...

Harga Emas Dunia Ambles 2,7%, Ternyata Ini Biang Keroknya!

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia jatuh tajam pada...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru