STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Dunia kembali dikejutkan oleh kabar mencekam dari tengah samudra. Kapal pesiar MV Hondius yang tengah berlayar menuju Kepulauan Canary terpaksa diisolasi setelah sejumlah penumpang terinfeksi Hantavirus.
Dalam insiden tersebut, seorang perempuan asal Belanda meninggal dunia, sementara seorang warga Inggris harus menjalani perawatan intensif.
Kasus ini memicu kekhawatiran global. Virus yang terdeteksi di kapal tersebut adalah strain Andes, jenis Hantavirus yang sangat langka karena diduga dapat menular antarmanusia. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran akan potensi wabah yang lebih luas.
Namun, ancaman Hantavirus sejatinya tidak hanya berada di kapal pesiar mewah yang jauh dari Indonesia. Virus ini juga telah terdeteksi di Tanah Air dan berpotensi mengintai di lingkungan rumah kita sendiri, terutama di area yang lembap, kotor, dan menjadi sarang tikus.
Ancaman Nyata di Indonesia
Indonesia bukan wilayah bebas Hantavirus. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI hingga Mei 2026, sebanyak 23 kasus positif Hantavirus telah tercatat sepanjang periode 2024 hingga Mei 2026.
Jumlah tersebut menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Pada 2024, hanya ditemukan satu kasus. Angka itu melonjak menjadi 17 kasus sepanjang 2025, dan hingga awal 2026 telah bertambah lima kasus baru.
Dari total kasus tersebut, tiga pasien meninggal dunia. Dengan demikian, tingkat fatalitas atau Case Fatality Rate (CFR) mencapai sekitar 13%.
“Hantavirus menjadi lebih berbahaya, silent threat yang bergerak perlahan di balik bayangan lingkungan kita sendiri,” tulis tim ahli dari Pusat Kebijakan Sistem Ketahanan Kesehatan, Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kemenkes.
Tim tersebut terdiri atas KD Puspa, FD Hanifah, DF Mogsa, dan M Karyana dari Tim Kerja Kebijakan dan Strategi Penanggulangan Penyakit Menular dan Kesehatan Lingkungan.

Jakarta dan Yogyakarta Jadi Hotspot
Hantavirus tidak hanya ditemukan di daerah terpencil. Data menunjukkan DKI Jakarta dan DI Yogyakarta menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, masing-masing enam kasus.
Jawa Barat menyusul dengan lima kasus. Kasus lainnya tersebar di Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, Sumatera Barat, Banten, Jawa Timur, dan Kalimantan Barat.
Secara total, sembilan provinsi di Indonesia telah melaporkan kasus Hantavirus.
Berbeda dengan kasus di MV Hondius yang melibatkan virus Andes, strain yang ditemukan di Indonesia adalah Seoul virus (SEOV). Virus ini dibawa oleh tikus rumah (Rattus rattus) dan tikus got (Rattus norvegicus), dua spesies yang hidup sangat dekat dengan manusia.
Tidak Harus Digigit Tikus
Banyak orang mengira infeksi Hantavirus hanya terjadi melalui gigitan tikus. Faktanya, penularan paling umum justru terjadi melalui udara yang terkontaminasi.
Kotoran, urine, dan air liur tikus yang mengering dapat berubah menjadi partikel debu halus. Saat seseorang menyapu lantai, membersihkan gudang, atau membereskan area yang lama tidak digunakan, partikel tersebut bisa beterbangan dan terhirup.
“Penularan terutama terjadi melalui aerosolized excreta dari rodensia,” ungkap tim peneliti BKPK.
Selain melalui saluran pernapasan, virus juga dapat masuk melalui luka terbuka pada kulit atau melalui kontak langsung dengan permukaan yang tercemar.
Gejala Sering Menyerupai Penyakit Lain
Hantavirus kerap sulit dikenali karena gejalanya menyerupai sejumlah penyakit lain yang umum di Indonesia, seperti demam berdarah dengue (DBD), tifus, dan leptospirosis.
Gejala awal biasanya meliputi demam, nyeri otot, mual, sakit kepala, dan kelelahan berat. Kemiripan gejala ini membuat banyak kasus berpotensi salah diagnosis.
Para ahli menyebut kondisi ini sebagai “fenomena gunung es”, yaitu jumlah kasus yang terdeteksi kemungkinan hanya sebagian kecil dari jumlah sebenarnya.
Dua Sindrom Mematikan
Hantavirus dapat menyebabkan dua sindrom utama yang berbahaya.
Pertama, Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yang menyerang ginjal. Sindrom ini umum ditemukan di Asia, termasuk Indonesia, dan dapat menyebabkan perdarahan serta gagal ginjal.
Kedua, Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yang menyerang paru-paru dan menimbulkan sesak napas akut. Pada beberapa strain virus, tingkat kematiannya dapat mencapai 50%.
Belum Ada Vaksin yang Tersedia Luas
Hingga kini belum tersedia vaksin Hantavirus yang digunakan secara luas. Penanganan medis umumnya bersifat suportif, seperti pemberian oksigen, cairan, hingga dialisis jika terjadi gagal ginjal.
Karena itu, pencegahan menjadi langkah paling efektif.
Lingkungan Bersih Jadi Kunci
Perubahan iklim, urbanisasi, sanitasi yang buruk, serta pengelolaan sampah yang tidak optimal dapat mempercepat perkembangan populasi tikus.
Masyarakat diimbau untuk menjaga kebersihan lingkungan dan berhati-hati saat membersihkan area yang berpotensi menjadi sarang tikus.
Gunakan masker, sarung tangan, dan basahi area berdebu sebelum dibersihkan agar partikel tidak beterbangan ke udara.
Tim ahli BKPK Kemenkes mengingatkan bahwa Hantavirus bukan penyakit baru, melainkan ancaman yang selama ini tersembunyi di balik diagnosis penyakit lain.
“Hantavirus bukan penyakit baru. Ia sudah lama ada, hanya saja selama ini tersembunyi di balik bayangan penyakit lain.”
Jika kewaspadaan tidak ditingkatkan, virus ini berpotensi menjadi kejutan epidemiologis berikutnya. Ancaman tersebut dapat datang tanpa disadari, tetapi membawa dampak yang sangat mematikan.
