STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia melonjak hampir 3% pada akhir perdagangan Senin (11/5/2026) waktu setempat atau Selasa pagi (12/5/2026) WIB. Lonjakan ini dipicu oleh penolakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap proposal balasan Teheran untuk mengakhiri konflik.
Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent naik hampir 3%. Harga minyak acuan global ini ditutup pada level 104,21 USD per barel, di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni terangkat hampir 3%. Minyak WTI berakhir pada posisi 98,07 USD per barel, di New York Mercantile Exchange.
Trump secara terang-terangan menyebut proposal dari Iran sebagai sampah. Ia juga menilai kondisi kesepakatan penghentian konflik saat ini sangat lemah.
“Saya akan mengatakan gencatan senjata berada pada dukungan hidup yang masif, di mana dokter masuk dan mengatakan, ‘Tuan, orang yang Anda cintai memiliki peluang hidup sekitar 1%’,” ujar Trump.
Harga minyak WTI maupun Brent kini telah melonjak lebih dari 40% sejak perang pecah pada 28 Februari lalu.
Kekhawatiran pasar semakin bertambah seiring pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Ia memperingatkan perseteruan dengan Iran masih jauh dari kata usai.
“Masih ada bahan nuklir, uranium yang diperkaya yang harus dikeluarkan dari Iran. Masih ada situs pengayaan yang harus dibongkar, masih ada proksi yang didukung Iran, ada rudal balistik yang masih ingin mereka produksi … ada pekerjaan yang harus diselesaikan,” kata Netanyahu.
Saat ditanya tentang cara AS dan Israel untuk menyingkirkan materi nuklir tersebut, Netanyahu memberikan jawaban yang tegas.
“Anda masuk, dan Anda mengambilnya,” ucap Netanyahu.
Analis dari Citi dalam laporan terbarunya memperkirakan harga minyak bisa terus mendaki. Skenario ini terjadi jika AS dan Iran gagal mencapai kesepakatan damai.
Menurut analis, pasar minyak sejauh ini tertolong oleh tingginya persediaan dan pelepasan cadangan minyak strategis. Penurunan tingkat permintaan di negara berkembang juga ikut menahan laju harga.
Namun, risiko lonjakan harga tetap terbuka lebar. Iran saat ini masih memegang kendali penuh atas jadwal dan syarat pembukaan kembali rute energi krusial di Selat Hormuz.
“Kami berasumsi rezim akan membuat kesepakatan yang membuka kembali Selat sekitar akhir Mei … tetapi kami terus melihat risiko condong ke arah batas waktu ini diundur dan/atau pembukaan kembali sebagian, yang berarti gangguan lebih lama,” tulis analis Citi.
CEO dan salah satu pendiri Sparta Commodities, Felipe Elink Schuurman, menganalogikan situasi pasar minyak saat ini dengan era pandemi virus corona. Ia memprediksi pasar harus segera beradaptasi dengan kondisi hilangnya pasokan secara besar-besaran.
“Pada tahun 2020, rata-rata, kita kehilangan permintaan 9 juta barel per hari dibandingkan dengan 2019, yang hampir setara dengan apa yang kita hilangkan sekarang dalam hal pasokan. Jadi, pasar harus menyesuaikan, dan kita harus mencapai tingkat kehancuran permintaan tersebut,” papar Schuurman.
Schuurman juga menyoroti pihak mana yang akan paling terdampak oleh kondisi kehancuran permintaan ini. Ia memperkirakan negara-negara maju akan menanggung beban harga yang lebih tinggi di tingkat konsumen.
“Sekarang pertanyaannya adalah ‘dari mana kehancuran permintaan itu akan datang?’ Dan sayangnya, itu akan menjadi situasi di mana negara-negara kaya akan membayar lebih. Mungkin Anda tidak melihat 200 USD pada minyak mentah, tetapi Anda akan melihatnya secara teratur pada produk, yang merupakan apa yang dikonsumsi orang,” tambahnya.
Lebih jauh, ia memproyeksikan krisis yang merembet ke berbagai sektor di seluruh dunia jika konflik terus berlarut.
“Anda akan berakhir dalam skenario di mana negara-negara miskin akan mengalami krisis kemanusiaan, Eropa akan mengalami krisis ekonomi dan AS, krisis politik,” tutup Schuurman.
