STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Barito Pacific Tbk (BRPT) berhasil membukukan laba bersih setelah pajak konsolidasi sebesar USD 271 juta pada kuartal pertama tahun 2026. Angka ini melonjak tajam 803,3% jika dibandingkan USD 30 juta pada periode yang sama tahun 2025 (3M25). Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai USD 90 juta, naik 462,5% dari USD 16 juta.
Menurut laporan keuangan konsolidasi per 31 Maret 2026, pendapatan bersih BRPT mencapai USD 2.570 juta. Pencapaian ini meroket 232% YoY dari USD 774 juta pada tahun sebelumnya.
Penjualan perseroan masih didominasi oleh segmen petrokimia yang mencapai USD 2.404 juta, melesat 286,5%. Segmen energi juga memberikan kontribusi sebesar USD 165 juta, naik 10% YoY, sementara pendapatan lainnya menyumbang USD 1 juta.
Kinerja luar biasa pada top-line ini ditopang oleh operasional anak perusahaan Chandra Asri Group. Kinerja refinery atau kilang yang kuat, dipadukan dengan integrasi aset ritel jaringan SPBU Esso (ExxonMobil) di Singapura, menjadi motor utama. Pencapaian ini lebih dari mampu mengimbangi volatilitas yang masih berlangsung di segmen petrokimia.
Selain itu, segmen energi terbarukan juga menopang pertumbuhan perusahaan. Pembangkitan geotermal yang stabil dan produksi pembangkit listrik tenaga angin yang lebih baik turut mendorong pendapatan. Anak usaha BRPT, Star Energy, juga baru saja menyelesaikan retrofit Wayang Windu yang meningkatkan kapasitas terpasang perseroan.
Berkat efisiensi dan operasional yang solid, EBITDA BRPT mencetak rekor kuartalan tertinggi sebesar USD 567 juta, melompat 288,4% YoY dari USD 146 juta. Margin EBITDA perseroan juga terkerek naik menjadi 22,06% dari 18,91%.
Agus Pangestu, Direktur Utama BRPT, menyatakan kuartal pertama 2026 berlangsung di tengah kondisi yang sangat dinamis dan penuh ketidakpastian. Hal ini ditandai oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta lonjakan tajam harga minyak global.
“Di tengah volatilitas tersebut, performa refinery yang kuat mendorong kinerja konsolidasi operasional kuartalan tertinggi sepanjang sejarah,” ucap Agus dalam siaran pers di Jakarta, Senin 94/5/2026).
Dari sisi neraca keuangan, Barito Pacific memiliki total aset sebesar USD 17.619 juta per Maret 2026. Jumlah aset ini meningkat tipis 1,5% dari USD 17.353 juta pada periode 3M25. Sementara itu, total liabilitas perseroan tercatat stabil di angka USD 11.308 juta.
Adapun total ekuitas perseroan tumbuh 4,4% menjadi USD 6.311 juta dari USD 6.046 juta. Perseroan tetap menjaga profil likuiditas yang kuat dengan menjaga posisi utang bersih terhadap ekuitas (Net Debt to Equity) stabil di level 0,77x.
