Harga Emas Dunia Melonjak 2,2%, Ini Pemicunya!

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Harga emas dunia melonjak lebih dari 2% pada akhir perdagangan Kamis (30/4/2026) waktu setempat atau Jumat pagi (1/5/2026) WIB. Kenaikan ini dipicu oleh pelemahan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) dan melandainya harga minyak mentah. Meski menguat tajam, logam mulia ini masih berada dalam jalur penurunan bulanan selama dua bulan berturut-turut.

Mengutip CNBC International, harga emas spot melonjak 2,2% ke posisi USD 4.639,26 per ons troi. Sebelumnya, harga sempat jatuh ke level terendah satu bulan pada perdagangan Rabu. Di pasar berjangka AS, kontrak emas untuk pengiriman Juni ditutup naik 2% menjadi USD 4.652,30 per ons troi.

Indeks dolar AS jatuh cukup dalam setelah pejabat Jepang memberikan sinyal kuat untuk melakukan intervensi mata uang demi mendukung yen. Pelemahan dolar membuat harga logam mulia menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya. Kondisi tersebut mendorong peningkatan minat beli investor di pasar komoditas.

David Meger, Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, memberikan analisanya terkait penguatan harga emas tersebut. Ia menyebut beberapa faktor eksternal yang memberikan sentimen positif bagi pasar.

“Sedikit kelegaan dalam percepatan harga energi dan jatuhnya dolar karena pejabat Jepang mengisyaratkan kemungkinan intervensi mata uang menguntungkan pasar emas hari ini,” ujar David Meger.

Harga minyak global yang sedikit mendingin ikut memengaruhi pergerakan pasar logam mulia. Sebelumnya, harga energi sempat menyentuh level tertinggi dalam empat tahun terakhir. Lonjakan harga energi memicu kekhawatiran inflasi dan mengaburkan prospek penurunan suku bunga bank sentral.

Secara akumulasi, harga emas spot telah turun sekitar 0,7% sepanjang bulan ini. Tekanan inflasi di tengah perang Iran yang masih berlangsung menjadi penyebab utamanya. Suku bunga tinggi cenderung mengurangi daya tarik emas karena investor lebih memilih aset yang memberikan imbal hasil.

Federal Reserve (The Fed) pada Rabu lalu memutuskan untuk menahan suku bunga. Namun, mereka menyatakan keprihatinan mendalam terhadap angka inflasi yang masih tinggi. Langkah serupa diambil oleh Bank of England (BoE) yang mulai menghitung dampak ekonomi akibat perang Iran.

Bank sentral Inggris tersebut bahkan menyiapkan skenario kenaikan biaya pinjaman secara paksa jika kondisi memburuk. Data ekonomi terbaru menunjukkan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS melonjak 0,7% pada bulan lalu. Kenaikan ini merupakan yang terbesar sejak Juni 2022 dan sesuai dengan perkiraan para ekonom.

Analis dari Citigroup menilai tekanan jual pada emas mungkin masih akan kuat dalam jangka pendek. Ketidakpastian situasi di Timur Tengah menjadi faktor penentu utama pergerakan harga. Namun, mereka meyakini emas akan kembali mendapatkan daya tariknya sebagai aset aman (safe-haven).

Citigroup mempertahankan target harga emas di level USD 4.300 untuk jangka waktu tiga bulan ke depan. Untuk proyeksi 6 hingga 12 bulan ke depan, mereka memprediksi harga akan menyentuh USD 5.000. Saat ini, permintaan emas di China terpantau naik signifikan menjelang libur Hari Buruh.

Tren kenaikan harga juga diikuti oleh logam mulia lainnya di pasar spot. Harga perak spot melonjak 3% menjadi USD 73,63 per ons troi. Perak terus mendapatkan dukungan dari aliran dana safe-haven dan pelemahan dolar AS.

Kenaikan paling signifikan dialami oleh platinum spot yang melesat 4,6% ke posisi USD 1.965,23 per ons troi. Sementara itu, harga paladium bertambah 1,5% menjadi USD 1.480,75 per ons troi pada akhir perdagangan.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Isu Serangan Militer ke Iran Menguat, Harga Minyak Dunia Justru Anjlok 3%

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Harga minyak dunia ditutup merosot...

The Fed Tahan Suku Bunga, Harga Emas Dunia Langsung Melorot

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia melemah pada akhir...

Trump Blokade Iran, Harga Minyak Dunia Melambung di Atas 6%

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Harga minyak dunia melonjak lebih...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru