ISEAI: Prabowo Akhiri Era ‘Bakar Uang’ Ojol, Negara Perkuat Kendali Lewat Danantara

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Lanskap ekonomi digital Indonesia tengah mengalami pergeseran besar. Pendekatan pasar bebas mulai ditinggalkan dan bergeser ke arah intervensi negara yang lebih proteksionis...

ISEAI: Prabowo Akhiri Era ‘Bakar Uang’ Ojol, Negara Perkuat Kendali Lewat Danantara
Bacakan Artikel

Danantara diprediksi bertindak sebagai jembatan merger Grab-Gojek. Entitas gabungan ini nantinya akan menguasai 91% pasar Indonesia. Kondisi tersebut menciptakan kontradiksi besar.

Pemerintah ingin membela pengemudi dengan menurunkan komisi menjadi 8%. Namun, penciptaan monopoli pasar berisiko merugikan konsumen. Penumpang terancam tidak mendapat persaingan harga yang kompetitif di masa depan.

Pihak pemerintah memberikan pembelaan terkait risiko monopoli tersebut. "Industri ini membutuhkan konsolidasi untuk menghentikan pembakaran uang yang tidak produktif dan menciptakan satu platform nasional yang stabil," sebut pihak pemerintah dalam laporan tersebut.

Strategi Danantara ibarat pedang bermata dua. Ada dua skenario yang mungkin terjadi bagi investasi negara. Skenario pertama adalah kerugian negara atau "buntung".

Hal ini terjadi jika Danantara hanya fokus pada penurunan komisi. Tanpa perbaikan struktur biaya, investasi di GOTO atau Grab akan mengalami capital loss masif. Harga saham bisa semakin terpuruk dan nilai aset menyusut.

Skenario kedua adalah keuntungan strategis atau "untung". Kondisi ini tercapai jika intervensi dibarengi dengan konsolidasi industri atau merger. Danantara bisa menghilangkan perang subsidi yang mencapai triliunan Rp setiap tahun.

Langkah ini juga mendorong efisiensi skala besar. Infrastruktur teknologi dan logistik bisa digabungkan. Kedaulatan data mobilitas rakyat juga akan menjadi aset strategis nasional. Efisiensi dari hilangnya persaingan bisa membuat perusahaan tetap profit meski komisi hanya 8%.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: