back to top
Senin, Januari 26, 2026
30.4 C
Jakarta

PIER Ramal Ekonomi RI Melempem di 2025, Cuma Tumbuh 4,5 – 5%

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Permata Bank lewat Permata Institute for Economic Research (PIER) kembali menggelar kajian Economic Review untuk melihat perkembangan terbaru perekonomian Indonesia.

Fokus utama kajian kali ini adalah pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal pertama 2025. PIER memprediksi laju pertumbuhan ekonomi akan melambat dibanding tahun sebelumnya.

Pertumbuhan PDB diperkirakan hanya akan berada di kisaran 4,5 – 5,0%, lebih rendah dari capaian tahun 2024 yang sebesar 5,03%. Angka ini juga lebih rendah dibanding proyeksi awal sebesar 5,11%.

“PIER memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 akan melambat, lebih rendah dari target sebelumnya. Ketidakpastian perang dagang yang meningkat telah mendorong perusahaan untuk menunda investasi dan rencana ekspansi. Oleh karena itu, kami berharap pemerintah dapat merespons dengan kebijakan fiskal yang lebih ekspansif dan stimulus tepat sasaran, agar konsumsi dan investasi domestik kembali bergerak,” ujar Josua Pardede, Chief Economist Permata Bank, di Jakarta, Rabu (14/5/2025).

Data menunjukkan, pertumbuhan PDB Indonesia pada kuartal pertama 2025 tercatat hanya 4,87% secara tahunan (YoY). Ini menjadi laju pertumbuhan paling lambat sejak kuartal ketiga 2021.

Salah satu penyebabnya adalah melemahnya konsumsi rumah tangga yang hanya tumbuh 4,89% YoY. Daya beli masyarakat turun, terutama pada pengeluaran makanan & minuman serta transportasi & komunikasi.

Investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) juga turun tajam menjadi 2,12% YoY. Penurunan ini dipicu lemahnya investasi di sektor bangunan, struktur, mesin, dan peralatan.

Belanja pemerintah pun terkontraksi 1,38% YoY, setelah sebelumnya terdongkrak aktivitas Pemilu. Di sisi lain, ekspor barang & jasa meningkat, berkat performa kuat dari ekspor nonmigas.

Secara sektoral, sektor pertanian justru mencatat pertumbuhan paling tinggi, yaitu 10,52% YoY. Lonjakan ini ditopang oleh meningkatnya produksi padi dan jagung.

Sektor manufaktur tetap stabil dengan pertumbuhan 4,55%. Industri logam dasar jadi penopang utama berkat permintaan ekspor yang solid.

Perdagangan ritel juga tumbuh positif sebesar 5,03%, terbantu momentum Ramadan. Sektor jasa turut menunjukkan performa yang kuat, ditopang geliat pariwisata.

Namun, sektor pertambangan mengalami kontraksi akibat pemeliharaan di tambang emas dan tembaga. Sektor konstruksi juga melambat karena adanya realokasi anggaran pemerintah.

Melihat tren ini, PIER merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2025 menjadi di bawah 5%. Ketidakpastian global yang masih berlangsung, terutama akibat perang dagang, menjadi faktor utama pelemahan ini.

Perang dagang diperkirakan berdampak besar pada sektor-sektor ekspor, khususnya yang sangat bergantung pada pasar AS. Industri seperti tekstil, garmen, elektronik, furniture, kulit & alas kaki, serta produk karet akan terdampak signifikan.

Sebaliknya, sektor-sektor yang lebih berorientasi pada pasar domestik, seperti jasa dan perdagangan, diperkirakan masih akan menjadi penggerak utama pertumbuhan tahun ini.

“Meningkatnya kekhawatiran atas perlambatan pertumbuhan yang tampak lesu dapat membuka ruang bagi pelonggaran moneter. Jika ketidakpastian global mereda dan ekspektasi penurunan suku bunga The Fed menguat, maka Bank Indonesia dapat memangkas suku bunga acuan (BI-Rate) hingga 50 basis poin sepanjang sisa tahun ini,” tutup Josua Pardede.

- Advertisement -

Artikel Terkait

LPS Surplus Rp33,8 Triliun Sepanjang 2025, Siap Masuk Fase “Great Leap” di 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menorehkan kinerja...

LPS Pertahankan Tingkat Bunga Penjaminan, Berlaku Hingga Mei 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memutuskan untuk...

Bank Indonesia, Uang Beredar Tumbuh 9,6% Jadi Rp10.133,1 Triliun pada Desember 2025

STOCKWATCH.ID (JAKARTA)  - Bank Indonesia (BI) mengumumkan bahwa likuiditas...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer 7 Hari

Berita Terbaru