back to top

Harga Minyak Dunia Gagal Bertahan di Level USD 119, Ternyata Ini Penyebabnya!

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia bergerak fluktuatif pada akhir perdagangan Kamis (19/3/2026) waktu setempat atau Jumat pagi (20/3/2026) WIB. Harga minyak mentah sempat menyentuh level tertinggi USD 119 sebelum akhirnya melandai. Pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengenai pembukaan Selat Hormuz menjadi pendorong utama koreksi harga.

Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Mei naik 1,27 USD atau 1,18%. Harga minyak acuan global ini ditutup pada level 108,65 USD per barel di London ICE Futures Exchange. Sebelumnya, Brent sempat melonjak melampaui 119 USD di awal sesi.

Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 0,18 USD atau 0,19%. Minyak WTI berakhir pada posisi 96,14 USD per barel di New York Mercantile Exchange. Harga minyak AS ini tergelincir setelah sempat diperdagangkan lebih tinggi sepanjang hari.

Benjamin Netanyahu memberikan keterangan kepada media terkait situasi keamanan di Timur Tengah. Israel saat ini sedang membantu Amerika Serikat (AS) untuk membuka kembali jalur kunci Selat Hormuz. Jalur ini merupakan urat nadi distribusi minyak dunia yang sempat terhambat.

Netanyahu menyebut Iran telah kehilangan kemampuan untuk memperkaya uranium. Negara tersebut juga dinilai tidak lagi mampu memproduksi rudal balistik. Perdana Menteri Israel itu memprediksi perang akan berakhir lebih cepat dari perkiraan orang-orang.

Wakil Presiden AS JD Vance melakukan pertemuan dengan para pelaku industri minyak Amerika pada Kamis. Pertemuan tersebut dipandu oleh American Petroleum Institute (API). Pembukaan Selat Hormuz kini menjadi prioritas utama bagi pemerintahan Donald Trump.

Presiden dan CEO API Mike Sommers memberikan keterangannya usai pertemuan tersebut. Ia menekankan pentingnya akses jalur distribusi energi tersebut bagi pasar global.

“Kita perlu membuka Selat itu. Tidak ada penggantinya saat ini,” ujar Mike Sommers.

Ketegangan sempat memuncak setelah serangan rudal Iran menyebabkan kerusakan parah pada Kota Industri Ras Laffan di Qatar. Lokasi ini merupakan fasilitas ekspor gas alam cair (LNG) terbesar di dunia. Serangan tersebut menghancurkan sekitar 17% kapasitas ekspor LNG Qatar.

CEO QatarEnergy Saad al-Kaabi mengonfirmasi kerusakan luas pada fasilitas tersebut. Tim darurat telah dikerahkan untuk memadamkan api di lokasi kejadian. Kementerian Dalam Negeri Qatar menyatakan kebakaran kini telah berhasil dikendalikan.

Eskalasi serangan terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah memicu kekhawatiran guncangan pasokan global. Sekitar 20% pasokan minyak dunia yang melewati Selat Hormuz saat ini sebagian besar masih terblokir.

Harga gas alam di hub Dutch Title Transfer Facility (TTF) Eropa melonjak lebih dari 11%. Harga gas alam AS juga naik 1,7% menjadi 3,116 USD per juta unit termal Britania. Bensin RBOB Nymex mencapai level tertinggi dalam empat tahun di posisi 3,13 USD.

Dan Pickering, Pendiri dan CIO Pickering Energy Partners, memperingatkan adanya perubahan risiko pasar. Masalah rantai pasok kini bergeser menjadi potensi masalah ketersediaan pasokan.

“Jika Anda mulai mengubah kemampuan berproduksi, baik itu LNG atau minyak, dan tiba-tiba Anda tidak bisa memindahkan volume yang sama karena volumenya tidak ada,” tegas Dan Pickering.

Pemerintah India terus menjalin komunikasi dengan Iran untuk membebaskan 22 kapal di Selat Hormuz. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri India Randhir Jaiswal menyebut dua kapal telah berhasil mencapai India. Sebagai langkah antisipasi, India terus meningkatkan pembelian energi dari Rusia.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Harga Emas dan Perak Terjun Bebas di Tengah Memanasnya Perang Iran

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Harga emas dan perak terjun...

The Fed Tahan Suku Bunga, Harga Emas Dunia Terperosok di Bawah USD 4.900

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia berakhir lebih rendah...

Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Dunia Melonjak di Atas 107 USD

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia melonjak hampir 4%...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru