back to top

Harga Emas dan Perak Terjun Bebas di Tengah Memanasnya Perang Iran

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Harga emas dan perak terjun bebas pada perdagangan Kamis (19/3/2026). Penurunan tajam ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap eskalasi perang Iran dan lonjakan inflasi global. Investor kini cenderung menjauhi aset aman (safe haven) demi mencari likuiditas.

Mengutip CNBC International, harga emas spot anjlok lebih dari 3% ke level USD 4.654,29 per ons. Kontrak berjangka emas untuk bulan depan juga merosot sekitar 5% menjadi USD 4.648,20 per ons. Penurunan ini mengakhiri tren positif emas yang sempat mencetak rekor pada tahun sebelumnya.

Kondisi lebih parah menimpa harga perak. Perak spot tersungkur lebih dari 3% ke posisi USD 72,62 per ons. Sementara itu, harga perak berjangka kehilangan lebih dari 8% dan menetap di level USD 71,25 per ons.

Aksi jual masif ini turut menyeret saham-saham perusahaan pertambangan di pasar global. Indeks Stoxx Europe Basic Resources di Eropa merosot hingga 6%. Saham Fresnillo sebagai produsen perak terkemuka dunia anjlok 9,3%.

Raksasa pertambangan Antofagasta juga mencatatkan penurunan sebesar 8,2%. Di bursa Amerika Serikat (AS), saham Teck Resources melemah lebih dari 3%. Saham First Majestic Silver dan Coeur Mining masing-masing jatuh lebih dari 6% dan 5%.

Instrumen Exchange-Traded Fund (ETF) berbasis logam mulia tidak luput dari tekanan. ProShares Ultra Silver ETF tersungkur 20% sebelum bel pembukaan perdagangan dimulai. iShares Silver Trust ETF juga turun 4,4%.

Sentimen penghindaran risiko (risk-off) kini sedang menyelimuti pasar finansial secara luas. Hal ini membuat harga saham dan obligasi pemerintah jatuh secara bersamaan. Investor khawatir konflik AS-Iran yang memasuki minggu ketiga akan memicu guncangan energi global.

Sejumlah bank sentral dunia terus memantau ketat perkembangan di Timur Tengah. Federal Reserve (The Fed) memutuskan menahan suku bunga pada Rabu. Bank of Japan juga mengambil langkah serupa karena risiko inflasi yang meningkat akibat perang.

Bank Nasional Swiss memilih mempertahankan suku bunga pada level 0%. Otoritas moneter Swiss menyatakan kesiapan untuk melakukan intervensi di pasar valuta asing seiring berlanjutnya konflik. Penguatan dolar AS turut membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.

Paul Surguy, Managing Director dan Head of Investment Management and Proposition di Kingswood Group memberikan analisanya. Ia menilai investor saat ini sedang mengatur ulang kepemilikan aset mereka.

“Pasar global telah melihat aksi jual yang luas karena investor mencari aset tercepat untuk dijual, mungkin kita sekarang melihat tahap selanjutnya dari fase ini di mana aset yang dianggap aman dijual untuk mendanai pembelian aset yang mungkin bereaksi berlebihan terhadap situasi saat ini,” ujar Paul Surguy.

Iain Barnes selaku CIO di Netwealth menyebut pergerakan harga logam mulia mencerminkan perubahan profil risiko portofolio investasi. Menurutnya, kelompok investor tertentu sedang melakukan pengurangan risiko secara menyeluruh.

“Investor finansial, alih-alih fundamental, adalah pembeli marginal emas dan kami melihat mereka mengurangi risiko di seluruh papan instrumen,” kata Iain Barnes.

Dan Coatsworth, Head of Markets di AJ Bell melihat fenomena ini sebagai bentuk likuidasi aset. Investor kemungkinan sedang mencairkan aset yang sebelumnya berkinerja baik. Hal ini dilakukan untuk menutupi kebutuhan margin atau merespons penguatan nilai tukar dolar AS.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Harga Minyak Dunia Gagal Bertahan di Level USD 119, Ternyata Ini Penyebabnya!

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia bergerak fluktuatif pada...

The Fed Tahan Suku Bunga, Harga Emas Dunia Terperosok di Bawah USD 4.900

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia berakhir lebih rendah...

Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Dunia Melonjak di Atas 107 USD

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia melonjak hampir 4%...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru