STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Industri perbankan nasional memperketat prinsip kehati-hatian di tengah meningkatnya risiko global. Tekanan eksternal dipicu eskalasi konflik Iran–Israel yang turut melibatkan Amerika Serikat.
Situasi ini berpotensi mendorong lonjakan harga energi, khususnya minyak mentah. Dampaknya dapat menjalar ke stabilitas pasar keuangan dan perekonomian global.
Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) yang juga Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Hery Gunardi, menegaskan kondisi fundamental perbankan domestik masih kuat.
“Kami melihat risiko global meningkat, terutama melalui transmisi kenaikan harga energi dan volatilitas pasar keuangan,” ujar Hery dalam keterangan resmi, di Jakarta, Jumat (27/3/2026).
Ia menyebut pertumbuhan kredit tetap terjaga. Likuiditas juga berada pada level memadai. Permodalan perbankan masih solid.
Dalam menghadapi tekanan global, perbankan memperkuat manajemen risiko dan kualitas aset. Langkah ini menjadi bagian dari penguatan prudential banking.
“Perbankan akan semakin memperkuat prinsip kehati-hatian melalui penguatan manajemen risiko dan kualitas aset,” lanjutnya.
Perbanas mencatat sejumlah langkah mitigasi telah dilakukan industri perbankan. Salah satunya melalui stress test sektoral.
Pengujian ini difokuskan pada sektor yang sensitif terhadap kenaikan biaya energi. Di antaranya sektor transportasi, logistik, dan manufaktur.
Selain itu, perbankan juga memperkuat early warning system. Sistem ini digunakan untuk mendeteksi potensi penurunan kualitas kredit lebih dini.
Disiplin penyaluran kredit juga ditingkatkan melalui pendekatan risk-based pricing. Langkah ini bertujuan menjaga kualitas pembiayaan.
Di sisi likuiditas, perbankan menjaga rasio liquidity coverage ratio (LCR) dan net stable funding ratio (NSFR). Penguatan dilakukan untuk memastikan kecukupan likuiditas tetap terjaga.
Perbankan juga mengelola eksposur nilai tukar secara lebih konservatif. Strategi lindung nilai serta pengendalian posisi devisa neto terus diperketat.
“Langkah-langkah ini penting untuk memastikan fungsi intermediasi tetap berjalan optimal tanpa mengabaikan aspek stabilitas,” tegas Hery.
Dengan berbagai strategi tersebut, industri perbankan diharapkan tetap resilien. Sektor ini juga diharapkan mampu menopang pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
