STOCKWATCH.ID (SEOUL) – Aktivitas penawaran umum perdana saham (IPO) di Korea Selatan turun tajam sepanjang 2026. Penurunan terjadi di tengah upaya pemerintah meningkatkan valuasi perusahaan melalui reformasi tata kelola dan pembatasan pencatatan anak usaha oleh kelompok konglomerasi keluarga atau chaebol.
Mengutip CNBC, data LSEG menunjukkan Korea Selatan hanya mencatat 15 IPO hingga 3 Juni 2026. Nilai dana yang berhasil dihimpun sekitar USD700 juta. Angka ini jauh di bawah rata-rata periode 2020-2025 yang mencapai sekitar 80 IPO per tahun dengan nilai sekitar USD8 miliar. Bahkan, jumlah IPO dan dana yang dihimpun Malaysia hampir dua kali lebih besar dibanding Korea Selatan.
Di sisi lain, indeks Kospi justru menjadi indeks saham utama dengan kinerja terbaik di dunia. Nilainya telah meningkat lebih dari dua kali lipat hingga perdagangan Senin.
Mitra Javelin Wealth Management di Singapura, Polka Mishra, menilai struktur chaebol yang sebelumnya menjadi penggerak industrialisasi Korea Selatan kini justru menghambat lahirnya perusahaan-perusahaan baru yang berkembang secara mandiri di bursa.
Ia juga menyoroti tarif pajak warisan Korea Selatan sebesar 50% untuk nilai aset di atas 3 miliar won atau sekitar USD2 juta. Kondisi itu dinilai mendorong konglomerasi mempertahankan valuasi perusahaan dan porsi saham publik (free float) tetap rendah.
Pemerintah Korea Selatan mulai menjalankan program Corporate Value-Up Initiative pada 2024. Program ini bertujuan menghapus fenomena Korea Discount, yaitu kondisi ketika saham-saham Korea Selatan diperdagangkan dengan valuasi lebih rendah dibanding perusahaan sejenis di luar negeri.
Pemerintah juga telah melakukan tiga kali perubahan terhadap Undang-Undang Komersial untuk memperkuat perlindungan pemegang saham minoritas serta meningkatkan tata kelola perusahaan.
Data Korea Exchange menunjukkan lima konglomerasi terbesar, yaitu Samsung, SK, Hyundai Motor, LG, dan HD Hyundai, menguasai sekitar 70% kapitalisasi pasar saham Korea Selatan hingga Senin.
Chief Executive Officer Korea Exchange, Jeong Eun-bo, mengatakan pencatatan anak perusahaan oleh perusahaan induk akan dibatasi.
“Pencatatan induk dan anak perusahaan akan dilarang sebagai prinsip umum,” kata Jeong dalam wawancara dengan CNBC pada 11 Juni 2026.
Praktik tersebut dinilai dapat mengurangi nilai perusahaan induk, merugikan pemegang saham minoritas, sekaligus mempertahankan kendali keluarga pengendali atas anak usaha yang baru melantai di bursa.
Komisi Jasa Keuangan Korea Selatan mencatat nilai kepemilikan silang antara perusahaan induk dan anak usaha yang sama-sama tercatat di bursa mencapai sekitar 11% dari total kapitalisasi pasar pada tahun lalu. Angka itu jauh lebih tinggi dibanding Jepang sekitar 4% dan Taiwan sekitar 3%.
Untuk meningkatkan kualitas pasar modal, Korea Exchange berencana menghapus pencatatan sekitar 300 perusahaan bermasalah hingga tahun depan. Langkah itu diharapkan dapat mengalihkan aliran modal ke perusahaan-perusahaan baru.
Jeong mengatakan bursa akan mendorong perusahaan baru masuk pasar modal sekaligus mempercepat penghapusan emiten yang sudah tidak layak.
“Kami ingin menghentikan praktik perdagangan yang tidak adil dan memperluas akses bagi perusahaan rintisan yang ingin melantai di bursa,” ujarnya.
Senior Research Fellow Korea Capital Market Institute, Lee Hyo-seob, mengatakan penurunan jumlah IPO memang meningkatkan valuasi perusahaan induk. Namun, kondisi tersebut juga memperlemah penghimpunan dana dan peluang divestasi bagi perusahaan modal ventura.
Sementara itu, IPO Leader EY Korea Selatan, Jungik Park, menilai perlambatan IPO menunjukkan pasar sedang bergerak menuju seleksi yang lebih ketat.
“Pasar berkembang menjadi lebih selektif dan berorientasi pada kualitas, dengan modal yang semakin terkonsentrasi pada sektor dan penerbit tertentu,” kata Park.
Park menambahkan Korea Selatan saat ini memiliki sekitar 2.700 perusahaan tercatat di bursa. Jumlah itu sekitar setengah dari perusahaan tercatat di Amerika Serikat, meski kapitalisasi pasar Korea Selatan jauh lebih kecil.
Lee menyebut terbatasnya aktivitas IPO menjadi situasi yang memiliki dua sisi. Di satu sisi mampu meningkatkan valuasi perusahaan induk, namun di sisi lain memperlambat pendanaan dan jalur keluar investasi bagi perusahaan modal ventura.
Meski demikian, Jeong menilai penurunan IPO hanya bersifat sementara selama proses reformasi berlangsung.
“Setelah pemerintah mengeluarkan pedoman yang lebih jelas mengenai pencatatan induk dan anak perusahaan, saya memperkirakan perusahaan akan lebih aktif melanjutkan proses pencatatan sahamnya,” ujar Jeong.
Ke depan, para analis memperkirakan perusahaan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) akan mendominasi antrean IPO di Korea Selatan. Prospek tersebut didukung kekuatan industri semikonduktor negara itu yang dipimpin Samsung Electronics dan SK Hynix.
Senior Analyst Shinhan Securities, Kang Jin-hyuk, dalam laporan 22 Mei 2026 mengatakan industri semikonduktor dan pusat data AI membutuhkan belanja modal sangat besar serta pendanaan jangka panjang.
“Semikonduktor dan pusat data AI membutuhkan belanja modal yang sangat besar dan investasi jangka panjang, sehingga ada batasan jika hanya mengandalkan modal swasta,” kata Kang.
Ia menambahkan dukungan pendanaan publik dan pembiayaan industri menjadi faktor penting bagi pertumbuhan industri AI Korea Selatan. Sebagai contoh, National Growth Fund yang didukung pemerintah telah menanamkan investasi sekitar USD130 juta masing-masing kepada perusahaan rintisan chip AI Rebellions dan FuriosaAI.

